Kamis, 9 April 2026

Tri Rismaharini Resmikan Patung Suro dan Boyo di Korea Selatan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wali Kota Busan Korea Selatan, Hur Nam Sik bersama-sama meresmikan patung Suro dan Boyo.

Editor: Sugiyarto
Tribunnews/Jeprima
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wali Kota Busan Korea Selatan, Hur Nam Sik bersama-sama meresmikan patung Suro dan Boyo. Peresmian patung tersebut menandai 20 tahun kerjasama sistercity antara kedua kota.

Monumen lambang Suro dan Boyo sendiri berada di taman kota yang terletak di kawasan BIC (Busan Indonesian Center). Posisi taman tersebut dekat dengan Jalan Surabaya di Kota Busan Korsel.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, peresmian patung lambang Kota Surabaya di Busan semakin melengkapi hubungan kemitraan yang selama ini terjalin.

Dan waktu 20 tahun bukan waktu yang singkat. Selama rentang waktu tersebut, ada banyak keuntungan yang diperoleh Surabaya dan Busan yang sama-sama merupakan kota terbesar kedua di masing-masing negara.

"Semoga ke depan hubungan kerjasama ini semakin erat dan sinergi, sehingga membawa dampak positif bagi masyarakat di kedua Kota," kata Risma saat acara peresmian patung Suro dan Boyo di Kota Busan Korsel, Selasa (1/7/2014).

Ditambahkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Surabaya, Wiwiek Widayati mengatakan, monumen Suro dan Boyo yang kini dipajang di Kota Busan merupakan karya seniman lokal Kota Pahlawan bernama Agung Tato.

Patung tersebut berbahan perunggu dengan dimensi tinggi 2,6 meter serta diameter lingkaran patung 0,75 meter. Rangkaian vertikal patung diletakkan di atas tatakan bundar berdiameter 3 meter. "Seluruh proses pengerjaan patung itu dilakukan di Surabaya. Setelah jadi baru dikirim ke kota Busan," kata Wiwiek.

Kabag Kerjasama Pemkot Surabaya Ifron Hady Susanto mengatakan, sejak hubungan kerjasama antarkota terjalin pada 1994, telah banyak manfaat yang dirasakan. Selama ini, kerjasama terealisasi di berbagai bidang di antaranya budaya, pendidikan, ekonomi hingga fesyen.

"Kota Surabaya dan Kota Busan sama-sama aktif mengirim delegasi seniman secara rutin. Busan tiap tahun selalu mengikuti Cross Culture Festival (CCF) yang diselenggarakan Pemkot Surabaya. Begitu pula Surabaya yang mengirim seniman untuk mengikuti event serupa di Korsel bertajuk Global Gathering," kata Ifron Hadi.

Di samping itu, menurut Ifron, untuk sektor pendidikan, Pemkot Surabaya mulai rajin mengirimkan tenaga guru guna belajar di Busan. Tahun lalu, pemkot menugaskan 40 guru dan kepala sekolah untuk studi banding di sekolah-sekolah kota Busan.

Dan tahun ini rencananya 70 tenaga pengajar diberangkatkan dengan misi yang sama. Harapannya, akan ada transfer ilmu sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di Surabaya.

Selain sektor formal, ungkap Ifron, kerjasama juga mulai merambah bidang fesyen kreatif. Beberapa waktu lalu, rombongan delegasi fesyen asal Busan berkunjung ke Surabaya.

Mereka tertarik mengkolaborasikan desain batik khas Surabaya dengan mode terkini di Korea. Artinya, sentuhan unsur Surabaya juga akan menyentuh fesyen Korea yang memang kini tengah naik daun di kalangan muda-mudi.

Memang, dikatakan Ifron, setelah ini pemkot akan membidik peningkatan kerjasama sektor ekonomi dan investasi. Hal itu jika merujuk pada data  sedikitnya ada 1.200 pebisnis asal Korsel yang sekarang berada di Jawa Timur.

"Kesempatan ekonomi dan investasi ini harus dimanfaatkan oleh warga Surabaya. Paling tidak harus ada nilai tambah yang dipetik, apalagi mengingat bisnis IT Korea kini tengah mendominasi. Harapannya tentu warga Surabaya bisa belajar banyak dan mengaplikasikannya ke dalam bisnis kewirausahaan masing-masing sehingga mampu bersaing," tutur Ifron.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved