Ongkos Ojek Rp 100 Ribu Warga Terpaksa Biarkan Hasil Panen Membusuk
Warga Desa Letkole, Kabupaten Kupang, mengeluh karena biaya transportasi ojek ke Pasar Fatumonas di Desa Oelbanu Rp 100.000 per orang.
Laporan Wartawan Pos Kupang, Julius Akoit
TRIBUNNEWS.COM, OELAMASI - Warga Desa Letkole, di Kecamatan Amfoang Barat Daya, Kabupaten Kupang, mengeluh karena biaya transportasi ojek ke Pasar Fatumonas di Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan Rp 100.000 per orang. Padahal jarak tempuh cuma 20 kilometer.
"Kalau kami mau pergi jual hasil bumi seperti bawang, kakao, dan kopi di Pasar Fatumonas, kami harus mengeluarkan ongkos yang sangat mahal. Satu orang harus bayar Rp 100.000 sekali angkut. Jika ditambah bawang putih satu karung, bayar lagi Rp 100.000," demikian keluhan Johanes Kuanabu, warga Desa Letkole, dibenarkan warga lainnya.
Jika seorang warga hendak menjual bawang putih di Pasar Fatumonas, lanjut Johanes, ia harus mengeluarkan biaya ongkos ojek pergi pulang minimal Rp 300.000.
"Sementara di Pasar Fatumonas, bawang putih satu karung hanya laku terjual paling mahal Rp 125.000. Berarti selisih Rp 175.000. Akibatnya, banyak hasil bumi ditumpuk saja di rumah hingga membusuk. Sebab ongkos transportasi sangat mahal. Tidak ada kendaraan umum, karena belum ada jalan raya. Hanya bisa dilewati sepeda motor ojek," tambah Johanes.
Keluhan warga ini dibenarkan Kepala Desa Letkole, Vitalis Sega. Pria asal Manggarai ini mengatakan, ia sudah belasan tahun tinggal di desa penghasil bumi terbesar di daratan Amfoang itu.
"Di desa kami, hasil bumi melimpah. Kelapa, pisang, pinang, kakao, kopi, jambu mete, sayuran, cabai, tomat, bawang, mangga, salak dan sebagainya. Cuma hasil bumi dibiarkan membusuk di kebun dan di rumah. Sebab tidak ada jalan raya dan tidak ada mobil ke Pasar Fatumonas. Warga cuma mengandalkan sepeda motor ojek dengan tarif mencekik leher," jelas Sega, mantan pendamping Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Desa Letkole.
Ia menjelaskan, bersama warga sudah bergotong-royong membangun jalan rabat beton secara swadaya hingga Kampung Nefoniut sekitar lima kilometer. Sisa 20 kilometer yang belum dikerjakan.
"Sebab masyarakat adat dari Desa Oelbanu menolak. Karena sebagian wilayah Letkole masuk wilayah pemerintahan adat Desa Oelbanu. Saya sudah lakukan pendekatan berkali-kali dengan tokoh adat setempat agar merelakan lahannya dibuka jalan raya. Tapi mereka menolak," keluh Sega.
Padahal, jika jalan raya 20 kilometer itu bisa dibangun, hasil bumi yang melimpah di Desa Letkole bisa dipasarkan di Pasar Fatumonas, Pasar Lelogama, Pasar Takari hingga Pasar Camplong dan Pasar Oesao di Kupang.
"Karena itu kami minta jika bisa, Pemkab Kabupaten Kupang berkenan membuka ruas jalan mulai dari Desa Letkole menuju Oelbanu hingga tembus ke Lelogama. Jika ada jalan raya, warga Amfoang akan hidup sejahtera," pinta Sega.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140525_200257_bandung-agri-market.jpg)