Batik Sinom Parijotho Salak Ikon Baru Kerajinan di Sleman

Batik Sinom Parijotho Salak, sebagai ikon baru kerajinan di Sleman

Batik Sinom Parijotho Salak Ikon  Baru Kerajinan di Sleman
Tribun Jogja/ Padhang Pranoto
Home industry, produk batik ikon Sleman Parijotho Salak mulai dibuat secara rumahan. Hal ini ditempuh untuk memasyarakatkan kerajinan tersebut. 

 
Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Batik Sinom Parijotho Salak, sebagai ikon baru kerajinan di Sleman mulai mendapat tempat di hati pelanggan. Hal ini dibuktikan dengan mulai munculnya produsen batik rumahan.

Satu diantaranya adalah Batik Ayu Arimbi, di Dusun Pelalangan, Pendowoharjo, Sleman. Memulai usaha dengan dibantu 20 orang perajin, yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Kelompok ini memulai modal usahanya dengan Rp 256ribu.

Ketua kelompok tersebut Sri Arumiyati menyatakan, dari uang tersebut dipergunakan untuk membeli selembar kain polos untuk kemudian di canting. Setelah menjadi selembar kain batik, produk tersebut laku dengan harga Rp 200ribu

"Kami dibantu dari Dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi (Disperindagkop) Sleman untuk peralatan. Sementara untuk kain dan tenaga dari kami," ujarnya, Selasa (05/08).

Tak disangka dari selembar kain tersebut, pesanan kain mulai bertambah banyak. Untuk satu hari, kelompok ini dapat mengerjakan hingga delapan batik cap motif Sinom Parijotho Salak.

Untuk selembar kain batik cap berukuran 2,5 meter dihargai dengan nominal Rp 150 Ribu hingga Rp 225 ribu. Sementara untuk batik tulis harganya dapat mencapai hingga Rp 400ribu.

Oleh karenanya, kelompok ini lebih berkonsentrasi memroduksi batik cap. Sedangkan untuk tulis, dibuat untuk pemesanan. "Kami lebih berkonsentrasi pada batik cap, sebab kalau tulis memerlukan waktu yang lebih lama," ujar Sri Arumiati.

Meski terbilang mapan, namun dirinya mengaku masih kesulitan dari segi pendanaan. Untuk menutupi biaya produksi, kelompok ini mengandalkan iuran dari anggotanya sebesar Rp 33ribu perorang.

Sementara itu dalam segi pemasaran, batik motif khas pegunungan Merapi ini telah dipasarkan hingga luar Jawa. Namun demikian, pemasaran lebih bersifat mulut kemulut atau "gethok tular".

"Produk ini sudah sampai ke Kalimantan, Bali dan Padang. Namun demikian pemasarannya masih antara mulut ke mulut. Sebagian pula dipasarkan oleh anggota kami, dengan ditawarkan ke kantor pemerintahan di Sleman," tutupnya.(Pdg)

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved