Memasukki Musim Kemarau Terjadi Tren Kenaikkan Harga Beras
Sejak memasukki musim kemarau, ada tren kenaikkan harga beras.
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Bakti Buwono
TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Kekeringan yang melanda lebih dari separuh Kabupaten/kota di Jawa Tengah mulai mempengaruhi harga beras.
Kepala badan ketahanan pangan kota Semarang, Intan Indriawan, menyatakan, sejak memasukki musim kemarau, ada tren kenaikkan harga beras.
"Tidak banyak sih, paling hanya Rp 100 hingga Rp 200, kalaupun naik tinggi maksimal paling Rp 500," katanya pada tribun akhir pekan lalu.
Ia mengatakan, kota Semarang memang bukan wilayah produses. Menurutnya wajar jika ada pengaruh dari kekeringan. Jika keadaan kekeringan semakin parah, maka kenaikan tidak lebih dari 15 persen.
Untuk mengatasinya pihaknya mengandalkan gapoktan di kecamatan. Tugas mereka adalah menyimpan beras dan menjual saat paceklik.
Hasi analisa harga dan pasar Bulog sub divre Semarang, Su'us mengatakan, stok gudangnya mencapai 50 ribu ton atau setara persediaan beras untuk delapan bulan ke depan. Khusus semarang, 5.500 ton sudah mencukupi.
"Kalau di lapangan tugas kami membeli gabah dari petani. Harga standar Rp 6.600, tapi di lapangan sudah lebih dari itu," jelasnya.
Di sisi lain, kepala dinas pertanian kota Semarang, Rusdiana mengatakan untuk lahan pertanian di kota Semarang belum ada laporan kekeringan. Bahkan, beberapa petani justru melakukan tambah tanam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140128_160501_beras-impor-ilegal-asal-vietnam.jpg)