Jumat, 10 April 2026

Kesulitan Solar, Ratusan Nelayan di Sabang Memilih Tidak Melaut

Ratusan nelayan di Sabang kembali tidak bisa melaut karena sulitnya mendapatkan solar bersubsidi.

Editor: Sugiyarto
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, SABANG - Ratusan nelayan di Sabang kembali tidak bisa melaut karena sulitnya mendapatkan solar bersubsidi.

Pihak SPBU di Sabang dilaporkan membatasi penjualan solar kepada nelayan. Hal ini disampaikan Panglima Laot Sabang, M Ali, kepada Serambi, Jumat (19/9).

M Ali mengaku sangat kecewa atas kebijakan SPBU yang masih membatasi pembelian BBM, sehingga mengakibatkan para nelayan kembali tidak bisa melaut, terutama para nelayan yang akan berlayar esok subuh.

Bukan karena stok Solar tidak tersedia, melainkan pihak SPBU tidak melayani penjualan solar kepada nelayan meski para nelayan itu mengantongi rekom panglima laot.

Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan Pertamina yang telah menyahuti permohonan Panglima Laot Sabang untuk memenuhi kebutuhan BBM nelayan di daerah itu.

”Alasan SPBU stok solar habis kami terima, tapi kenapa setiap mobil truk yang masuk tetap dilayani,” ujarnya kesal.

Karena itu, pihaknya berharap kepada pemerintah dan Pertamina untuk menyediakan BBM kepada nelayan, sehingga tidak menghambat aktifitas nelayan.

Sebab, jika nelayan tidak bisa melaut, harga ikan di pasaran juga akan melambung.

Pada Jumat kemarin, harga ikan mulai melonjak. Ikan tongkol, ikan jinara (gembung) dan ikan dencis (rugak) yang biasanya dijual Rp 15.000-Rp 20.000/kg, kini meningkat menjadi Rp 40.000-Rp 45.000/kg.(az)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved