Sabtu, 9 Mei 2026

Renovasi Keraton Yogja Ditunda Tahun Depan

"Tapi ditunda dan akan dianggarkan kembali tahun depan. Konstruksi nggak mungkin digarap tahun ini, sudah mepet," kata

Tayang:
Kompas.com/ FERGANATA INDRA RIATMOKO
Rizky (2 tahun, kanan) menemani kakeknya, abdi dalem Cermo Wicoro (kiri) yang sedang bertugas di Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Senin (4/4/2011). Mengabdikan diri untuk Keraton Yogyakarta telah menjadi pilihan hidup baginya dengan harapan hadirnya limpahan berkah bagi keluarga mereka. 

TRIBUNJATIM.COM,YOGYA  - Anggaran Rp 4,5 miliar untuk perbaikan Keraton dan Pura Pakualaman urung dikucurkan.

Sebab, proses kontruksi perbaikannya terpaksa ditunda tahun depan.

Itu karena Pemda kesulitan menemukan kontraktor pelaksana dua bangunan cagar budaya tersebut.

Berdasarkan data lelang elektronik, perbaikan bangunan Keraton dianggarkan Rp 2,1 miliar sedangkan untuk Pura Pakualaman Rp 2,48 miliar.

"Tapi ditunda dan akan dianggarkan kembali tahun depan. Konstruksi nggak mungkin digarap tahun ini, sudah mepet," kata Kepala Seksi Purbakala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi, Minggu (28/9/2014).

Dian mengakui, upaya rehabilitasi BCB selalu terkendala saat proses lelang.

Untuk lelang perencanaan dan kajian sebelum rehabilitasi saja, harus dilakukan berulang kali karena sempat gagal.

Lelang perencanaan baru selesai akhir Agustus.

Ada alokasi Rp 375 juta untuk perencanaan rehabilitasi Keraton dan Rp 178 juta untuk perencanaan Pura Pakualaman.

Lantas, saat ini hingga akhir November baru dilaksanakan pencermatan dan kajian terhadap bangunan Keraton dan Pura Pakualaman.

Di situ akan dicermati, sisi bangunan mana saja yang harus diperbaiki dan bagaimana metodenya nanti. Sebab, perbaikan BCB sangat riskan. Tidak boleh sembarangan kontraktor.

"Ini baru diteliti, sisi bangunan mana saja yang harus diperbaiki di Keraton dan Pura," ujar Dian.

Percermatan sementara, bangunan di Keraton yang harus segera diperbaiki ialah Bangsal Kencono, bangsal Sri Manganti dan Ndalem Ageng Proboyekso.

Ada upaya pengecatan dan penggantian kayu-kayu yang keropos.

"Dilihat dari luar kelihatan masih bagus, padahal keropos, efek usia. Ada penggogosan tanah, sehingga bangunannya mulai sedikit ambles," ungkap Dian.

Bangsal Kencono merupakan balairung utama istana. Di tempat ini dilaksanakan berbagai upacara untuk keluarga kerajaan di samping untuk upacara kenegaraan.

Di sebelah barat bangsal Kencana terdapat nDalem Ageng Proboyakso yang menghadap ke selatan.

Bangunan yang berdinding kayu ini merupakan pusat dari Istana secara keseluruhan. Di dalamnya disemayamkan Pusaka Kerajaan (Royal Heirlooms), Tahta Sultan, dan Lambang-lambang Kerajaan (Regalia) lainnya.

Lebih parahnya, dua bangunan Keraton itu juga sempat terselimuti abu vulkanik Kelud, Februari 2014. Padahal, abu vulkanik juga berisiko melapukkan kayu serta menyebabkan korosi pada logam.

Bangunan Pura Pakualaman pun kondisinya sama saja. Dilihat sepintas masih baik, tapi jika diketuk, kayu-kayunya ternyata keropos.

Saat tingalan dalem ke-78 KGPAA Pakualam IX, pagar pembatas di samping Pendopo Pura Pakualaman bahkan roboh karena banyaknya tamu yang berada di sekitar Pendopo.

Istana PA IX itu juga hanya berlantaikan ubin abu-abu.

Berbeda dengan Bangsal Kencana Keraton yang sudah berlantaikan marmer seluruhnya.

"Makanya lantai Pura juga akan dimarmer semua, biar lebih bagus. Untuk mengangkat tahta dan kedudukan Pura," tutur Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudhaningrat.

Selebihnya, masih diteliti tim perencanaan soal sisi mana saja yang harus diperbaiki.

Libatkan Abdi Dalem Sebagai Pelaksana Konstruksi

Terkait masalah sulitnya mencari kontraktor pelaksana perbaikan Keraton dan Pura, Gusti Yuda mewacanakan pelibatan para abdi dalem sebagai pekerja konstruksi.
Para abdi dalem ini dianggap lebih menguasai seluk beluk Keraton. Khususnya untuk detail simbol-simbol dalam setiap bangunannya.

Dengan demikian, bisa menghindari kesalahan konstruksi yang bisa merusak nilai budaya Keraton dan Pura.

"Misalnya masalah paukiran, abdi dalem akan dilibatkan. Kan mereka lebih paham," kata Gusti Yuda. Tercatat, ada sekitar 2.000 abdi dalem di Keraton Kasultanan Yogyakarta dan sekitar 500 abdi dalem di Pura Pakualaman.

Kendati akan melibatkan abdi dalem, tapi kontraktor pelaksa tetap harus menyediakan tenaga ahli BCB saat proses konstruksinya.

Itu merupakan syarat mutlak dalam lelang konstruksi BCB.

"Tetap harus ada tenaga ahli sesuai kualifikasi," tegas Gusti Yuda.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved