Imam Tercenung Melihat Rumahnya Hanya dalam Beberapa Menit Tertimbun Tanah Longsor
Imam Junaidi (50) menjadi saksi mata saat rumahnya dan keluarganya terkena hantaman tanah dari perbukitan di atasnya, Kamis (4/12/2014) sore.
TRIBUNNEWS.COM, JEMBER - Imam Junaidi (50) menjadi saksi mata saat rumahnya dan keluarganya terkena hantaman tanah dari perbukitan di atasnya, Kamis (4/12/2014) sore. Di tengah derasnya hujan sekitar pukul 15.00 WIB, ia pulang dari sawah.
Laki-laki itu pulang setelah bekerja di sawah untuk berteduh dan melepas lelah. Namun saat berada beberapa meter dari rumahnya, ia mendengar gemuruh tanah berjatuhan.
Ia pun hanya terpana. Ia tidak bisa bergerak kala menyaksikan tanah menerjang empat bangunan di lokasi rumahnya berdiri.
Hanya hitungan menit, tanah telah menguruk atap rumahnya. Tanah juga mendorong rumahnya doyong ke depan.
Ia melihat bagaimana tanah meratakan rumahnya ke tanah. Ketiga rumah semi permanen itu tidak bisa menahan gempuran tanah dan air.
Ketiga rumah itu merupakan rumah semi permanen. Hanya bagian depan saja yang berdinding tembok itu pun separo. Bangunan bagian depan merupakan bantuan bedah rumah dari Pemkab Jember tahun 2010.
Sedangkan bagian belakang terbuat dari bambu dan kayu. Meskipun semi permanen, ketiga rumah itu beratapkan genteng.
Imam, bersama suadaranya, Slamet dan sang ibu, Ny Manik, sudah puluhan tahun tinggal di situ. Memang cukup sulit mencari ketiga rumah tersebut.
Rumah itu berada di Dusun Krajan 3 Desa Badean Kecamatan Bangsalsari. Warga harus masuk beberapa kilometer dari jalan raya desa.
Beruntung jalan menuju rumah ketiga warga itu kini sudah diaspal. "Sebelumnya kalau musim hujan seperti sekarang sulit masuk ke dusun itu. Pilihannya jalan kaki," kata Suharto, warga Desa Badean yang ditokohkan oleh warga setempat.
Rumah warga yang tertimbuh longsor itu tidak berada di pinggir jalan dusun. Namun harus masuk sekitar 75 meter menembus perkebunan kopi. Saat Surya mendatangi lokasi, jalan becek dan licin karena beberapa hari terguyur hujan.
Imam, slamet, dan Ny Manik memang tinggal di tegah area kebun kopi. Namun mereka tinggal di atas lahan sendiri yang tidak terlalu luas. Mereka juga menanam kopi di sekitar rumah mereka.
Tanah yang longsor juga masih milik keluarga tersebut. Tanah longsor itu hanya berjarak sekitar 1 meter di belakang rumah dan berketinggian sekitar 5 meter. Panjang tanah yang longsor mencapai sekitar 20 meter.
"Saya hanya bisa pasrah melihat tanah menimbun rumah kami. Kami berharap ada bantuan untuk kami sehingga kami bisa kembali memiliki rumah dan tempat berteduh," ujar Imam.
Selain menimpa rumah di Desa Badean Kecamatan Bangsalsari, tanah longsor juga merusakkan rumah Bu Sevi (50), warga Lingkungan Mojan Kelurana Bintoro Kecamatan Patrang. Tanah longsor itu juga terjadi, Kamis (4/12/2014) sore.
Peristiwa itu juga tidak sampai merenggut nyawa. Saat kejadian, Bu Sevi bersama dua orang anaknya sedang berada di rumah. Namun saat mendengar gemuruh tanah, mereka langsung berhamburan keluar. Seperti di Badean, tanah juga meluluhlantakkan rumah semi permanen tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/longsor-manoreh_20141201_072220.jpg)