Sabtu, 23 Mei 2026

Korban Angin Puting Beliung Mengeluh Belum Meratanya Bantuan

Hari kedua setelah angin puting beliung melanda kawasan Bandung Timur, para korban mengeluhkan bantuan yang dibagikan tidak merata

Tayang:
Editor: Budi Prasetyo
Tribun Jabar/Tiah SM
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (jaket merah bertopi) memimpin Bandung Tanggap Bencana di kawasan pangaritan Cipadung Wetan , Jumat (19/12/2014). 

TRIBUNNEWS.COM.BANDUNG,- Hari kedua setelah angin puting beliung melanda kawasan Bandung Timur, para korban mengeluhkan bantuan yang dibagikan tidak merata.

 Korban di Jalan Pangaritan, Kelurahan Cipadung Wetan, Kecamatan Panyileukan, mengeluhkan mulai kesulitan air bersih, listrik belum menyala, sampai makanan belum diterima.

Eneng Hasanah (30) dan Ade (30), misalnya, menyampaikan keluhannya kepada Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mujahid saat meninjau lokasi, Sabtu (20/12). Sodik, yang membawa empat tangki air bersih, disambut sukacita warga. Bahkan Kapten Arm Ferry R, yang mengendalikan pasukan relawan, beberapa kali mengucapkan terima kasih. 

"Terima kasih, Pak, kiriman airnya. Kebetulan kami sangat membutuhkannya. Pasokan air PDAM belum datang, padahal sangat dibutuhkan untuk dapur umum," ujar Ferry.

Sodik, yang seorang diri masuk ke lorong-lorong kecil, setiap memasuki rumah dicurhati penghuninya. "Pak, kami belum dapat bantuan apa pun. Rumah yang depan sudah dapat. Kami butuh air bersih karena listrik mati, jadi tak bisa sedot air," ujar Eneng. Eneng juga menyampaikan kesulitannya mencari lilin untuk penerangan.

Menurut Eneng, yang mendapat bantuan hanya rumah yang di pinggir jalan, sedangkan yang masuk gang belum mendapat bantuan.

Mendapat curhatan, Sodik pun minta agar warga bersabar karena bantuan pasti sampai. Menurut dia, bantuan mungkin masih dalam proses distribusi. 

Camat Panyileukan Uum Sumiati mengakui distribusi bantuan belum sempurna karena para ketua RW masih banyak yang belum melapor. "Pasokan makanan sudah tersedia, tinggal distribusi melalui para ketua RW agar bantuan merata sampai ke tangan korban," ujarnya.

Menurut Uum, khusus di Kecamatan Panyileukan tercatat 976 rumah yang rusak berat, yang berada di dua kelurahan, yakni di Cipadung Wetan 416 rumah dan Mekar Mulya 560 rumah. "Kebutuhan yang mendesak genting karena rumah yang rusak semuanya bagian atapnya," ujar Uum.

Kemarin, dapur umum korban bencana angin puting beliung di Jalan Pangaritan, Cipadung Wetan, yang baru dimulai, sempat terlambat memasak karena kekurangan air bersih.

Tim dapur umum dari Tagana Kota Bandung baru memasak pukul 13.00, tetapi kurang dari satu jam nasi 50 kg sudah siap saji. Begitu juga dengan 40 kg ayam kecap dan dua karung sayur taoge selesai dimasak.
Setelah matang, nasi, ayam, dan taoge langsung dibungkus beramai-ramai. Bahkan Camat Panyileukan Uum Suamiti ikut membungkus nasi karena dinanti relawan.

Salah satu juru masak dari Tagana, Dedy Turjana, mengaku memasak 50 kg sudah terbiasa bahkan 200 kg beras juga sering saat melayani korban bencana di Aceh dan Yogyakarta. "Masak nasi 50 kg cukup 15 menit, tapi dijamin matang karena ada teorinya," ujar Dedy.

Dedy menuturkan, beras 50 kg dimasukkan sekaligus dalam satu panci besar, kemudian disiram air mendidih. Setelah mengeras dan padat, kembali disiram air mendidih dan hanya membutuhkan 15 menit nasi sudah matang.

Dedy dibantu rekan-rekannya yang cekatan dalam memasak, seperti Gugib, Edu, Dudi, Aceng, Rudi, Asbon, dan Otoy. Mereka terus bercanda untuk menghilangkan lelah dan jenuh. "Sudah peraturan tak boleh ada orang masuk dapur umum kecuali juru masak yang sudah ditunjuk. Ini semua demi keselamatan agar tak terjadi keracunan," ujar Dedy.

Kemarin ada seribu relawan yang bekerja membersihkan puing reruntuhan bangunan, termasuk 150 anggota Arhanud yang tak henti memikul potongan genting menggunakan karung. (tsm)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved