Sebelum Tewas Bakar Diri, Putu Karpica Pamit Tirta Yatra Keliling Bali
Sebelum meninggalkan tempat tinggalnya, Gusti Karpica mengaku hendak melakukan tirta yatra (persembahyangan) keliling Pulau Bali.
Editor:
Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, KARANGASEM - Tewasnya satu keluarga yang ditemukan terpanggang di kamar Hotel Tower, Klungkung, Bali, tak hanya menggemparkan Klungkung, yang setahun lalu sempat dihebohkan kasus mutilasi. Tapi juga sampai ke Karangasem.
Bagaimana tidak, keluarga I Gusti Putu Karpica adalah warga Banjar Timbul, Desa Padang Kerta, Kecamatan Karangasem, Bali.
Saat Tribun Bali (Tribunnews.com Network) mendatangi kediaman keluarga Gusti Karpica di Jalan Raya Untung Suropati No 101 Padang Kerta, Amlapura, Jumat (23/1/2015), puluhan warga serta kerabat terlihat memenuhi bagian depan bengkel Putra Urip Motor milik korban.
Sebelum meninggalkan tempat tinggalnya, Gusti Karpica mengaku hendak melakukan tirta yatra (persembahyangan) keliling Pulau Bali. Menurut sepupu korban, Ni Gusti Ketut Sari, sehari sebelum ditemukan tewas, korban juga sempat mengirim SMS kepada pamannya, I Gusti Ketut Perasi, yang bekerja di bengkel.
"Saat SMS, korban bilang masih memedek keliling Bali. Kalau nggak salah korban SMS sekitar jam 08.00 Wita," tutur Gusti Sari.
Namun saat ditanya terkait keseharian Gusti Karpica, Sari mengaku tak paham betul. Pasalnya, korban tak mau terbuka saat mengalami masalah.
Hal senada juga diungkapkan tetangga korban, Ni Ketut Intan, yang mengaku tak mengetahui detail keseharian korban.
"Paling saat akan jemput anaknya yang TK, istri korban (Ni Gusti Ayu Raspayani) biasanya menitipkan anaknya yang paling kecil ke saya. Tapi setelah selesai jemput, korban langsung mengambilnya lagi. Kalau suaminya biasanya saya lihat saat mantau anak buahnya di bengkel," jelas Intan.
Intan yang asal Kintamani, Bangli, kemudian mencoba mengingat pertemuan dirinya dengan korban sebelum kejadian. Ia mengaku sekitar tanggal 8 Januari korban sempat mengadakan acara otonan anaknya yang nomor tiga atau bungsu, Ni Gusti Ayu Santhi Jayanti.
Setelah itu sekitar tanggal 19 Januari, korban mengaku akan pergi untuk menghadiri acara pernikahan.
"Acara pernikahan ke mana saya tak tahu. Hari Rabu nya korban mengaku akan maturan. Karena aji-nya datang, sore harinya korban pulang. Namun pagi harinya (Kamis) korban pergi lagi," kata Intan.
Wanita yang tinggal di Kabupaten Karangasem selama 6 tahun ini juga merasakan keanehan. Bengkel yang biasanya buka tiap hari, sejak Rabu lalu tiba-tiba tutup.
"Biasanya kalau hari raya besar, bukanya agak siangan," kata Intan. (ful)