Breaking News:

Warga Gunungkidul Bangkitkan Wayang Topeng Tertidur 30 Tahun

Warga Dusun Danggolo, Gunungkidul, membangkitkan kesenian wayang topeng yang sudah tertidur selama 30 tahun.

Tribun Jogja/Bramasto Adhy
Kesenian wayang topeng tampil di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (29/3/2015). Kesenian tersebut sempat vakum selama 30 tahun, sebelum kembali pentas pada 2014. 

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Wayang sebagai kesenian tradisional Jawa telah dikenal luas masyarakat, baik wayang kulit, golek, maupun wayang orang. Tetapi belum banyak orang mengenal wayang topeng.

Di Kabupaten Gunungkidul tepatnya di Dusun Danggolo, Kelurahan Purwodadi terdapat sebuah kelompok kesenian Wayang Topeng Panji Budaya. Satu-satunya kesenian Wayang Topeng di Gunungkidul tersebut telah tidur sekitar 30 tahun.

Salah satu anggota Panji Budaya, Sukatman, menyatakan, sebelum pentas lagi pada 3 September 2014, sejak tahun 1983 kesenian wayang topeng tidak pernah lagi dipentaskan. Karena perangkat gamelan yang digunakan pentas dijual.

"Dulu yang punya gamelan Pak Sedikromo. Harus menjual gamelan untuk menyekolahkan anaknya. Setelah itu, kami tidak pernah lagi pentas," ujar Sukatman ditemui di acara pentas wayang Topeng di kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (29/3/2015).

Bermodalkan dorongan kuat untuk menghidupkan wayang topeng, sejumlah masyarakat Danggolo yang dulu sempat aktif bermain, mencoba menghidupkannya mesti di tengah keterbatasan.

Saat ini kelompok Panji Budaya pun belum memiliki gamelan. Untuk latihan dan pentas, mereka masih sewa. Topeng sebagai komponen utama dalam pementasanpun mereka buat sendiri. Dorongan kuat mengalahkan segala keterbatasan yang ada.

"Kami membuat songkok hanya dari bola plastik yang kami potong dan kami hias menggunakan kertas dan kami lukis. Untuk badong biasanya terbuat dari kulit, sementara kami buat dari kertas. Ini semua tidak mempengaruhi semangat kami," ujar Sukatman.

Saat ini jumlah anggota Panji Budaya sekitar 20 pemain dan 18 pengrawit. Usia mereka rata-rata di atas 50 tahun. Tak ingin wayang topeng punah, mereka melakukan regenerasi. Setiap minggunya anak-anak SMP hingga SMA mulai berlatih wayang topeng.

Sukatman berharap adanya perhatian dari semua pihak terhadap kesenian wayang topeng. Menurutnya, perhatian tersebut tidaklah harus selalu dalam bentuk pendanaan, tetapi juga bisa dalam bentuk pendidikan dunia panggung.

Berita Populer
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved