Belanja Rokok Warga Lampung Kalahkan Belanja Susu dan Sayuran
Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat, konsumsi rokok masyarakat Lampung selama 2013 mencapai Rp 4,6 triliu
TRIBUNNEWS.COM.BANDAR LAMPUNG - Kampanye bahaya merokok yang kerap muncul bahkan hingga tergambar di bungkus rokok, ternyata tidak menyurutkan masyarakat Lampung mengosumsi rokok. Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat, konsumsi rokok masyarakat Lampung selama 2013 mencapai Rp 4,6 triliun.
Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Lampung Mukhamad Mukhanif menuturkan, angka belanja rokok tersebut merupakan perhitungan BPS berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional.
"Kami membuat enam klasifikasi belanja tembakau dan sirih, terdiri dari rokok kretek filter, rokok kretek tanpa filter, rokok putih, tembakau, sirih atau pinang, dan lainnya," kata Mukhanif di ruang kerjanya belum lama ini.
Perbedaan rokok kretek filter dan tanpa filter dengan rokok putih, menurut Mukhanif, berdasarkan kadar tembakau dan cengkih yang terkandung dalam rokok. Sementara, klasifikasi tembakau adalah rokok yang proses pembentukannya dibuat sendiri perokok.
"Jadi, perokok membeli tembakau dan kertasnya terpisah, terus mereka melinting sendiri. Kalau klasifikasi lainnya yang kami hitung konsumsi kertas papirnya," kata Mukhanif.
Dalam Susenas 2013 BPS Lampung melakukan survei terhadap 9.320 rumah tangga responden dari total 1,9 juta rumah tangga di Lampung. Para responden yang disurvei pun telah mewakili seluruh kelas ekonomi masyarakat di Lampung.
"Ada metode tertentu yang kami lakukan untuk mendapatkan nilai konsumsi rokok masyarakat Lampung sebesar Rp 4,6 triliun, dari hasil Susenas yang kami lakukan. Tetapi untuk melihat berapa jumlah perokok di Lampung, kami agak sulit untuk menguraikan datanya," kata Mukhanif.
Berdasarkan profil pusat promosi kesehatan kabupaten/kota di Lampung 2014 milik Dinas Kesehatan Lampung, ada 37,01 persen rumah tangga yang tidak merokok. Data tersebut didapatkan berdasarkan hasil survei terhadap 983.158 rumah tangga dari total 2,08 juta rumah tangga di Lampung.
Berdasarkan data Pola Konsumsi Penduduk Lampung 2013 yang dilansir BPS Lampung, belanja tembakau dan sirih ternyata berada pada urutan 3 dari 14 barang, dalam persentase pengeluaran rata-rata per kapita sebulan menurut kelompok barang berupa makanan.
Belanja rata-rata tembakau dan sirih mencapai 8,07 persen. Jumlah itu berada di bawah belanja padi-padian (9,79 persen) serta makanan dan minuman jadi (9,44 persen).
Berdasarkan data itu, Mukhanif menjelaskan, belanja tembakau dan sirih memang lebih tinggi dibandingkan belanja sayur-sayuran (5,96 persen), ikan (3,79 persen), serta telur dan susu (3,45 persen). Adapun, persentase belanja rata-rata delapan komoditas lain berada di bawah 3 persen.
"Persentase pengeluaran rata-rata kelompok barang terbagi menjadi dua, yaitu makanan dan bukan makanan. Total persentase pengeluaran rata-rata untuk makanan sebesar 53,15 persen. Dan, belanja tembakau dan sirih berada di urutan tiga," ungkap Mukhanif.