Senin, 13 April 2026

Entis Selamat Usai Tertimbun Longsoran Tanah karena Berzikir

Mulut Entis (55) tak berhenti berucap syukur kepada Tuhan. Dia masih tak menyangka nyawanya selamat setelah terkubur di dalam tanah setebal dua meter

KOMPAS.com/ DENDI RAMDHANI
Salah seorang anggota kepolisian saat menggotong salah seorang korban dalam peristiwa tanah longsor dalam pembangunan rumah mewah di Komplek Pondok Hijau Kampung Cicarita RT 01 RW 18 Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (3/8/2015). 

Laporan Kontributor Kompas.com Dendi Ramdhani

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG — Mulut Entis (55) tak berhenti berucap syukur kepada Tuhan. Dia masih tak menyangka nyawanya selamat setelah terkubur di dalam tanah setebal dua meter selama 15 menit.

Pria yang berprofesi sebagai buruh bangunan tersebut lebih beruntung dari dua rekannya, Rana Supriatna alias Ogin (35) dan Anang Mirza (28), yang menjadi korban tewas dalam musibah tanah longsor saat menggali fondasi sebuah rumah mewah di kompleks Pondok Hijau, Kampung Cicarita, RT 01 RW 18, Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (3/8/2015).

Kepada Kompas.com, Entis menceritakan detik-detik kejadian mengerikan tersebut.

"Sekitar pukul 10.20 WIB, saya sedang bekerja memasang besi fondasi. Saya dengan Mirza dan Rana posisinya berhadapan dengan jarak sekitar 1 meter. Saya sempat berucap kepada Mirza, jangan kerjain di sini, mending kamu ngerjain bagian garasi, tetapi dia enggak mau," kata Entis dengan tatapan kosong.

Dia melanjutkan, saat sedang mencangkul tanah, tiba-tiba tebing tanah setinggi 8 meter menimpa tubuhnya.

Dalam benaknya, Entis pesimistis bisa selamat. Upaya terakhir yang dilakukan Entis hanya berdoa, dan berharap keajaiban terjadi.

"Saya sudah berpikir kalau saya meninggal, tidak bakalan selamat, karena napas sudah hampir habis. Selama 15 menit, saya menahan napas dan tak berhenti berzikir dan istigfar dalam hati. Saya minta pertolongan, semoga diberi kesempatan hidup. Saya juga tak mengerti mengapa bisa bertahan selama itu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Entis mengaku, saat itu dadanya mulai terasa panas dan tubuhnya mulai lemas.

Namun, dia tiba-tiba mendengar suara teriakan banyak orang, tepat di atas kepalanya.

"Saya sudah tak kuat menahan napas, untungnya orang yang nolong menggali tepat di bawah kepala saya. Saya orang pertama yang terselamatkan. Kalau telat satu menit saja, saya mungkin sudah tidak ada," tuturnya.

Dengan kondisi setengah sadar, tubuh Entis dikeluarkan dari dalam tanah. Dia bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup.

Namun, tangis Entis pecah saat mengetahui kedua rekannya ditemukan dalam keadaan meninggal.

"Saya ingat Mirza, dia itu tetangga saya di kampung, masih ada hubungan saudara. Kami baru bekerja selama seminggu di sini," ujarnya.

Entis sempat punya firasat tanah akan longsor. Pasalnya, dia mengamati kondisi tanah cenderung labil, dan posisi bangunan berada dalam kemiringan yang tak ideal.

"Pas bikin fondasi, saya sempat tanya kepada mandornya, 'Ini tanahnya bakal ambruk enggak.' Katanya, 'Enggak akan karena tanahnya campuran. Kalau tanah hitam, pasti ambruk,'" tuturnya.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved