10 Hektar Tanaman Padi di Gunungkidul Gagal Panen

Petani tidak bisa mengantisipasi kekeringan tersebut karena memang tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi ladang-landang miliknya.

10 Hektar Tanaman Padi di Gunungkidul Gagal Panen
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey
ILUSTRASI - Dadang (54) memeriksa lahan sawah garapannya yang mati akibat kekeringan, di Kampung Ciluncat, Desa Tegal Sumedang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jum at (11/9/2015). Hingga saat ini, sedikitnya 3.387 hektare areal pesawahan di Kabupaten Bandung, teramcam gagal panen atau puso pada musim kemarau saat ini. Paling parah terjadi di Kecamatan Baleendah seluas 385 hektare disusul Kecamatan Ciparay seluas 450 hektare. TRIBUN JABAR/Bukbis Candra Ismet Bey 

TRIBUNNEWS.COM, GUNUNGKIDUL  -  Sedikitnya 10 hektare lahan padi di Gunungkidul gagal panen.

Tanaman padi terlanjur tidak dapat diselamatkan karena tidak ada sumber air yang bisa digunakan untuk mengairi ladang.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul, Aswan Latief mengatakan luas lahan padi mencapai 42 ribu hektar.

Dari jumlah tersebut, 10 hektare di antaranya tidak dapat diselamatkan karena mati kekurangan air.

“Ada tanaman yang mengalami kekeringan, tapi masih bisa diselamatkan. Menurut data yang kita peroleh, ada 10 hektare tanaman padi lahan kering yang dipastikan gagal panen,” katanya akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, lahan padi yang gagal panen paling banyak berada di Kecamatan Saptosari. Di wilayah tersbeut, curah hujan pada awal musim tanam padi sangat rendah sehingga tanaman yang baru berusia sekitar satu bulan banyak yang mati.

Para petani tidak bisa mengantisipasi kekeringan tersebut karena memang tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi ladang-landang milik petani.

Sementara di beberapa kecamatan lain, kondisinya lebih bervariatif, ada yang masih bisa diselamatkan dan ada yang tidak bisa diselamatkan.

Tanaman padi yang masih bisa diselamatkan pun produksinya tidak bisa maksimal karena mengalami kekurangan air di saat masa pertumbuhan.

Kondisi ini menurutnya cukup merugikan para petani lahan kering. Hanya saja, dinas tidak bisa berbuat banyak karena hal tersebut disebabkan oleh faktor alam, yakni rendahnya curah hujan dan suhu yang cenderung panas.

"Pengganti benih tetap akan kita berikan, tapi tidak tahun ini, karena percuma kita berikan tahun ini karena musim tanam sudah lewat," jelasnya. (tribunjogja.com/has)

Editor: Wahid Nurdin
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved