Breaking News:

Bencana Longsor di Tana Toraja, 35 Ribu Keluarga Terisolir, Satu Orang Tewas

Kabupaten Tana Toraja provinsi Sulawesi Selatan darurat bencana.

TRIBUN JABAR / NUGRAHA RAMADIAN
Ilustrasi bencana longsor. 

TRIBUNNEWS.COM, TORAJA - Kabupaten Tana Toraja provinsi Sulawesi Selatan darurat bencana.

Curah hujan deras dalam dua pekan terakhir, memicu rangkaian tanah longsor di enam kecamatan di kabupaten berjarak 314 km sebelah tenggara Makassar, ibukota Provinsi Sulsel.

Hingga Senin (18/4/2016) kemarin, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tana Toraja mencatat setidaknya ada sekitar 35 ribu keluarga di 10 dari 19 kecamatan di Toraja terisolir.

Satu korban tewas dilapoorkan dari lokasi bencana tanah longsor di Lembang Le'tek, Kecamatan Bittuang.
Bencana tanah longsor juga dan satu orang wanita lanjut usia tewas yang terjadi poros SMPN 1 Bittuang, Lembang Le'tek, Kecamatan Bittuang, Tana Toraja, yang terjadi Jumat (15/4/2016) pukul 17:00 wita lalu, kemarin sudah ditemukan da dievakuasi.

Ini adalah bencana longosor terbesar ketiga yang menerjang dataran tinggi (1200 - 2000 mdpl) yang menjadi hulu sungai terbesar di Sulsel, Saddang ini, dari tahun 2009 dan Juli 2013 lalu.

Senin kemarin, mupida Tator menggelar rapat mendadak. Rapat dipimpin langsung Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae dan Wakil Bupati Tana Toraja, Victor Datuan Batara, Kapolres, Dandim, Kepala BPBD Kepala BPBD Tana Toraja, Marten Tellu, dan Kadis PU Tana Toraja, Aris Paridi.

Ketua DPRD Tana Toraja, Welem Sambolangi, secara spesifik bahkan meminta penanganan segera dari Balai Besar Jalan Nasional wilayah IV untuk poros ini, untuk menurunkan alat berat, escavator untuk mengatasi timbunan tanah longsor.

Dari rapat kemarin, Tana Toraja ditetapkan menjadi darurat dan Zona Merah Daerah Bencana Alam.

Untuk daerah Tana Toraja arah barat, terisolir Kecamatan Bittuang, Masanda, Rano, Mappak, Bonggakaradeng, dan Simbuang.

Untuk arah selatan Tana Toraja, Kecamatan Sanggalla, Sanggalla Selatan, Gandan Batu Sillanna, dan Kecamatan Makale Selatan.

Sedangkan kecamatan yang terisolir, Bittuang, Masanda, Rano, Mappak, Bonggakardeng, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mamasa dan Mamuju, Sulawesi Barat.
Sedangkan satu kecamatan yakni Kecamatan Sanggalla Selatan berada diperbatasan Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu.

Jalan akses di 10 kecamatan terisolir akses jalan oleh material longsor.
Setidaknya 5 rangkaian jalan poros kecamatan, 4 jalan kabupaten/provinsi, dan 1 jalan nasional, tertutup lumpur, batu, dan bongkahan kayu.
Akses lalu lintas di hampir separuh kabupaten dengan penduduk 226.160 jiwa (BPS; 2014) ini, lumpuh. Pusat-pusat ekonomi, layanan publik (pendidikan cdan kesehatan), di Makale dan Rantepao, mulia terganggu.
Hari Minggu (17/4) lalu, gereja dan rumah ibadah di Makale sepi.
Pengunjung pasar, dan layanan di pusat wisata, kena imbas. "Banyak karyawan hotel dan pedagang pasar yang tak masuk, mereka menjenguk sanak famili," kata anggota Fraksi Gerindra DPRD Sulsel Firmina Tallulembang, yang sudah dua kali kedua ,meninjau daerah pemilihannya.
Dari pantauan Tribun, daerah Tana Toraja arah barat, terisolir Kecamatan Bittuang, Masanda, Rano, Mappak, Bonggakaradeng, dan Simbuang.

Untuk arah selatan Tana Toraja, Kecamatan Sanggalla, Sanggalla Selatan, Gandan Batu Sillanna, dan Kecamatan Makale Selatan.
"Saat ini semua lokasi sudah diterjunkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menimbun badan jalan," ujar Kepala BPBD Tana Toraja, Marten Tellu.
Curah hujan di Toraja, memang selalu tinggi di bulan Februari, Maret, dan puncaknya April. (lihat Curah Hujan Rerata di Toraja).

Di kabupaten seluas 2.054,30 km2 (19 kecamatan - 159 kelurahan) ini memang basah. Temperatur rata-rata berkisar 16ºC hingga 26ºC dengan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 82% - 86%.
"Semua tenaga dan kekuatan Pemkab Tana Toraja akan kita kerahkan", tambah Ketua Partai Demokrat Tana Toraja ini.

Bencana tanah longsor kebanyakan menutup akses jalan.
Kepala Dinas PU Tana Toraja, Aris Paridi, saat ini telah berada di lokasi bencana yang berada di daerah perbatasan.
Tim BPBD laangsung menuju lokasi kejadian setelah menerima laporan.
" saat ini kami ada dirumah duka, dan pak Bupati beserta Wakil Bupati sudah memerintahkan untuk segerah mengambil tindakan", tambah Marten Tellu.

Lokasi bencana longsor juga sudah dianggap aman oleh tim BPBD Tana Toraja.
Personel Polres Tana Toraja, dan Kodim 1414 Tana Toraja juga sudah diturunkan mengatasi bencana ini.
Dari pantauan TribunToraja.com, alat berat yang disewa oleh Pemkab Tana Toraja, sudah beroperasi membersihkan material longsor, dan kendaraan roda dua dan empat sudah mulai melalui jalur ini.
Untuk badan jalan yang ambruk akan dibuatkan jalan darurat, sambil menunggu perbaikan permanen dari Balai Besar Jalan Nasional wilayah IV.

"Kita harap Balai Besar memperhatikan poros ini, kasihan warga", tambah Willem yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Tana Toraja ini.
Dinas Pekerjaan Umum Tana Toraja juga sudah menurunkan personel dan alat berat untuk membantu penanganan tanah longsor ini.

"Kami akan bantu Balai Besar Jalan Nasional, karena anggaran penangan jalan ini ada pada Balai", ungkap Kadis PU Tana Toraja, Aris Paridi. (tribuntoraja.com/yul/sim)

Editor: Hasanudin Aco
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved