Breaking News:

Pilkada Serentak 2017

Perwira Polisi Menggandeng Budayawan Jadi Peserta Pilkada Yogyakarta

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 semakin dekat. Mereka yang terpaanggil untuk menjadi kontestan mulai bermunculan.

Dok keluarga
Arif Nurcahto bersama istri dan ketiga anaknya. 

Tribunnews.com, Yogyakarta - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 semakin dekat. Mereka yang terpaanggil untuk menjadi kontestan mulai bermunculan.

Demikian juga dengan yang terjadidi Yogyakarta. Para kontestan bukan hanya datang dari mereka yang diusung oleh Parpol. Setidaknya di Yogyakarta sudah ada dua calon perseorangan  yang dengan serius ingin merebut kursi Wali Kota Yogya dalam pesta demokrasi 2017.

Yang pertama adalah sutradara Garin Nugroho dan yang kedua perwira polisi yang juga dikenal sebagai psikolog serta pegiat kesenian, Arif Nurcahyo yang akrab disapa Yoyok. Keduanya sama-sama asli putra Yogya dan sama-sama maju tidak melalui jalur partai.

Kamis malam (21/4/3016) Yoyok yang selama ini masih berdinas di Polda Metro Jaya sempat berbincang santai dengan Tribunnews.com di Jakarta. Perbincangan seputar siapa yang akan digandengnya untuk maju dalam pilkada tahun depan.

"Pasangan saya? Maaf meski sudah ada, namun saya belum bisa menyebut siapa orangnya, tapi akan sampaikan kriteria dan profilnya. Dia seorang budayawan dengan pribadi yang unik, memiliki 'sense of Yogya' yang kuat dalam perspektif seni dan budaya serta memiliki kesediaan untuk bekerjasama dengan saya tentunya," kata pria murah senyum ini.

Namun, saat ditanya mengapa memilih pasangan dengan kriteria begitu dan bukan seorang birokrat, Yoyok tampak sangat serius menjawabnya. " Bagi saya birokrat dan politisi sangat penting untuk menjadi partner dalam menata Yogya dan mereka selama ini sudah menjadi pelaku dan mengambil peran itu. Kami menawarkan konsep yang baru untuk mengembalikan Yogya sebagai kota pendidikan dan kota budaya melalui GERAKAN KEBUDAYAAN. Kami ibarat dwi-tunggal (polisi-budayawan) untuk mengajak seluruh komponen masyarakat terlibat dalam proses kebudayaan sekaligus pendidikan politik saat memilih Wali Kota Yogya yang dapat mengembalikan kota Yogya sebagai kota pendidikan yang berbudaya. Dengan konsep 'membangun dunia bisa dari Indonesia, membangun Indonesia bisa dari Yogyakarta maka menata Yogya bisa dari pekarangan rumah kita dengan menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan...," katanya.

Sambil minum kopi perbincangan bergeser ke soal aturan KPU yang mewajibkan kontestaan independen untuk menggunakan materai dalam pengumpulan KTP per kelurahan.

"Sekilas saya sudah tahu dan belajar tentang wacana tersebut sebagai aturan main. Sepanjang ada 'alasan khusus' untuk menjadi produk hukum yang kelak menjadi aturan main, saya tidak melihat itu sebagai upaya mempersulit,, Namun akan menjadi sesuatu yang berbeda apabila 'aturan main dibuat saat pertandingan berlangsung'. Seharusnya pertanyaan ini justru ditujukan kepada pembuat kebijakan," katanya.

Dengan dua kontestan menggunakan jalur independen, bahkan antara Yoyok dan Garin memiliki komunitas pergaulan yang hampir sama, bukan tidak mungkin pengumpulan KTP antarkeduanya sebagai syarat maju perorangan akan menemui kendala di lapangan.

"Berawal dari sebuah niat tulus (pulang ke Yogya) lalu berpraoses secara baik dan benar membuat segala sesuatu menjadi 'semakin tampak dan terukur' termasuk estimasi perolehan KTP tentunya. Fenomena ini menjadi indikator penguat berbekal keyakinan dan semangat para sahabat dalam mendukung dan terlibat secara langsung sehingga proses ini diharapkan dapat dipahami oleh masyarakat Yogya.  .Tentu perolehan KTP menjadi jawaban sekaligus parameter tentang niat saya. Maka saya harus hati-hati dan tidak boleh gegabah tentang hal ini," katanya.

Halaman
12
Penulis: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved