Dua Penambang Pasir Manual di Lereng Merapi Tewas Tertimbun
Dua orang perempuan penambang manual di lereng Merapi, tewas tertimbun pasir, Selasa (26/4/2016).
Editor:
Sugiyarto
Laporan Reporter Tribun Jogja Padhang Pranoto
TRIBUNNEWS.COM, KLATEN - Dua orang perempuan penambang manual di lereng Merapi, tewas tertimbun pasir, Selasa (26/4/2016).
Duka kian mendalam mengingat mereka masih bersaudara ipar dan meninggalkan anak-anak yang masih membutuhkan kasih ibu.
Menurut Kades Sidorejo Jemakir, Kecamatan Kemalang, peristiwa itu terjadi di Dukuh Tawang RT :6/3, pada sekitar pukul 08.30 WIB.
Menurutnya, saat kejadian kedua korban yakni Sarjiyem (30) dan Legiyem (32), tengah menambang bersama Narso (56) yang tidak lain ayah dari Legiyem dan mertua Sarjiyem.
Saat menambang, kedua perempuan tersebut berada dalam satu lokasi, yakni cekungan tebing Sungai Tawang Kulon.
"Namun tidak disangka, saat menambang mereka (Sarjiyem dan Legiyem) tertimbun oleh longsoran pasir dan batu yang mereka tambang."
"Keduanya tak bisa menyelamatkan diri dan tewas. Dari dasar sungai tinggi tebing itu sekitar empat hingga lima meter."
"Sedangkan Narso berhasil melarikan diri dan selamat. Meskipun demikian, kini ia syok," tutur nya di rumah duka.
Dikatakannya setelah kejadian tersebut warga kemudian berbondong-bondong menyelamatkan keduanya. Namun 30 menit dilakukakan upaya penyelamatan, nyawa keduanya tak tertolong.
Seluruh tubuh Legiyem tertimbun longsoran material pasir, sementara tubuh Sarjiyem masih dapat terlihat. Menggunakan tenaga manual, mereka mencoba menyelamatkan keduanya.
Adapun luka yang didapat keduanya berada di bagian kaki, punggung dan terdapat memar di kepala.
Menurutnya, lokasi penambangan berada 100 meter dari rumah Narso yang didiami pula oleh Sarjiyem dan suaminya Kersi.
Sedangkan Legiyem tinggal bersama suaminya Darbo di Dukuh Margomulyo Desa Tangkil.
Keluarga itu hampir setiap hari melakukan aktifitas tambang di lokasi tersebut.
Namun demikian, untuk menaikan pasir keatas truk dilakukan setiap tiga hari sekali.
Untuk setiap ritnya, rerata dipatok sekitar Rp 400-650 ribu.
"Kadang-kadang mereka melakukan penambangan bersama anak mereka yang masih kecil. Tapi hari ini tidak," tambah Jumakir.
Menurut tetangga Narso, Darto (50) pada saat kejadian ia baru saja beristirahat seusai menambang, pada pukul 08.00 WIB.
Namun setengah jam kemudian, ia mendengar Narso berteriak-teriak memanggil pertolongan.
"Mbah Narso celuk-celuk (memanggil) pertolongan, akhirnya anak saya Sutar yang pertama kali menolong," tuturnya.
Dikatakannya, saat ini kedua korban meninggalkan masing-masing dua anak yang masih membutuhkan perhatian.
Sarjiyem memiliki dua anak yakni Nur yang kini bersekolah di SMP dan Novi yang masih berusia empat tahun.
Sedangkan Legiyem meninggalkan SIti sekolah di SD dan Tia yang masih balita.
Ditambahkannya, keluarga itu sudah mulai menambang dua tahun yang lalu sebagai sambilan usaha mereka bercocok tanam. (tribunjogja.com)