Breaking News:

Istri Rektor UIN Walisongo Ini Pernah Nangis ketika Harus Hafal Alquran

Suasana sepi menyelinap tatkala memasuki pekarangan sebuah rumah di Jalan Pringgodani, Bangetayu Wetan, Kota Semarang.

Editor: Sugiyarto
tribun jateng
MufidahMuhidin 

TRIBUNNEWS.COM - Suasana sepi menyelinap tatkala memasuki pekarangan sebuah rumah di Jalan Pringgodani, Bangetayu Wetan, Kota Semarang. Di tembok sisi kiri pintu pagar terdapat papan bertuliskan Pondok Pesantren Putri Al-Firdaus.

Tidak lama setelah Tribun Jateng mengucapkan salam, muncul wanita mengenakan gamis dan berkerudung merah. Secara ramah, wanita tersebut mempersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

"Sejak masuk pondok pesantren sekitar tiga puluh tahun lalu, saya mendalami Alquran," ucap wanita bernama Mufidah Muhibbin itu, membuka percakapan.

Bukan perkara mudah bagi Mufidah, hidup di lingkungan pondok. Terlebih, dia harus menghafal Alquran beserta maknanya.

"Awalnya berat, bahkan saya sampai nangis karena setiap hari harus setor hafalan satu sampai dua lembari. Namun, alhamdulillah, saya bisa hafiz Alquran selama tiga tahun," cerita Mufidah.

Bermula dari situ, Mufidah sering diminta menjadi hafiz dari satu acara ke acara lain. Terkadang, dia mengisi pengajian di kampung.

Dia bersyukur, ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi orang lain. Bahkan, Mufidah mampu menyulap perkampungan yang dulunya dihuni warga yang jauh dari agama menjadi lebih dekat Sang Pencipta.

"Sebelum saya datang, di daerah ini masih banyak yang belum mengenal Islam secara dekat. Judi di mana-mana, bahkan tidak ada musala," ujar Mufidah.

Isteri rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini melakukan pendekatan lewat cara mendorong ibu-ibu ikut pengajian yang digelar setiap jumat.

Mufidah pun memberi pencerahan melalui pengajian. Dia menghidupkan suasana religius lewat pembangunan musala dan pondok pesantren.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved