Bocah Penderita Hidrosefalus ini Tersenyum Ketika Mendengar Azan

Ririn (6), penderita hidrosefalus dan gizi buruk hanya bisa terbaring di kasur. Jika ada maunya ia menangis. Tersenyum ketika mendengar azan.

Bocah Penderita Hidrosefalus ini Tersenyum Ketika Mendengar Azan
Tribun Jabar/Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Elih menyuapi Ririn makan. Bocah enam tahun itu didiagnosis menderita hidrosefalus sejak berusia 2.5 tahun. Sehari-hari aktivitas Ririn berlangsung di atas kasur di kediamannya di Jalan Jenderal Sudirman, Gang Aman 5 RT 4/9, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Minggu (17/7/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Lingkar kepala Ririn Ariyani (6) sekitar 84 sentimeter. Sejak usia 2,5 bulan, dokter mendiagnosisnya menderita hidrosefalus.

Anak pasangan Tatang Hermawan (48) dan Elih (44) ini sempat menjalani operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan lingkar kepalanya mengecil.

Setahun setelah tak dikontrol, lingkar kepala Ririn kembali membesar karena orangtuanya tak mampu membiayai operasinya. Hanya Tatang yang bekerja sebagai buruh bangunan, itupun tak pasti kapan dapat uang. Sementara Elih tak bekerja karena harus menjaga Ririn.

Ririn tak pernah beranjak dari kasur. Anak keempatnya itu hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Ririn memang tak bisa berbicara sepatah kata pun hingga saat ini.

"Cacalangap (buka mulut, red) saja kalau berkomunikasi. Tapi kalau diajak bicara suka tersenyum sesekali. Tersenyum juga kalau mendengar suara azan," ujar Elih saat ditemui wartawan di rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman, Gang Aman 5 RT 4/9, Kebonjeruk, Andir, Kota Bandung, Minggu (17/7/2016).‬

Selain hidrosefalus, Ririn juga menderita gizi buruk. Ukuran tubuhnya tak menyerupai bocah seusianya. Menurut Elih anaknya tak doyan berbagai jenis makanan. Ririn hanya menyantap bubur nasi. Susu menjadi makanan termewah bagi Ririn selama menderita hidrosefalus.

"Kalau ada rezeki baru dibelikan susu. Kalau tidak ya bubur saja," sambung Elih.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan Elih tak membawa Ririn ke rumah sakit untuk diobati. Ia malas mengikuti prosedur rumah sakit jika menggunakan fasilitas BPJS. Sebab pelayanan yang diberikan tak langsung didapat.

"Anak saya sulit dibawa kalau cuma naik angkot. Belum lagi menunggu beberapa jam kalau mau dirawat. Makanya kami rawat di rumah saja," kata Elih.

Elih berharap Ririn tumbuh seperti anak pada umumnya. Bisa sekolah dan bermain dengan teman sebayanya. Apa daya kondisi keluarganya tak mampu sehingga Ririn harus menderita.

"Kalau sekarang suami sedang ada pekerjaan di Setiabudi. Ya bekerja kalau ada panggilan saja, kalau tidak ada ya menganggur di rumah," beber Elih.

Penulis: Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved