Kisah Arifin, Kepala Desa Bantilang Berpenghasilan Rp 1,4 Miliar Per Tahun
Kepala Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Arifin berpenghasilan Rp 1,4 miliar per tahun.
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ivan Ismar
TRIBUNNEWS.COM, TOWUTI - Kepala Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Arifin berpenghasilan Rp 1,4 miliar per tahun.
Penghasilan tersebut bisa dikatakan fantastis untuk label jabatan kepala desa di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia.
Penghasilan yang diperoleh sebanyak itu, bukan berasal dari gaji sebagai kepala desa melainkan bersumber dari hasil panen perkebunan merica yang dimilikinya.
Hitung-hitung, Arifin memiliki lahan merica seluas 21 hektare dengan jumlah pohon merica mencapai 16 ribu pohon.
Setiap 1 hektare memiliki sekitar 1.600 pohon merica. Per pohon mampu menghasilkan merica seberat 2 kilogram setiap satu musim panen.
"Permusim penghasilan bersih, Alhamdulillah diperoleh Rp 1,4 miliar. Diluar gaji karyawan dan pupuk mencapai ratusan juta," kata Arifin yang memiliki 40 pekerja kepada TribunLutim.com (Tribunnews.com Network), disela meninjau kebun merica miliknya di Desa Bantilang, Minggu (7/8/2016).
Hitungan sederhananya, setiap hektare atau 1.600 pohon menghasilkan 3,6 ton merica per tahun. Harga merica saat ini mencapai Rp 135 ribu.
Menurut Arifin, luas lahan 21 hektare belum seluruhnya memiliki pohon merica produktif, banyak di antaranya belum bisa dipanen.
Merica produktif yang dimaksud, kata Arifin adalah merica yang ditanam pada tahun 2007 atau berumur 9 tahun.
Arifin juga mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) yang mewajibkan setiap warga menanam merica sejak tahun 2007 silam. Tidak heran jika di desa ini, setiap warganya punya kebun merica.
Selain Arifin, petani merica yang tergolong sukses di Desa Bantilang yakni, Masdin memiliki sekitar 10.000 pohon dengan luas lahan 5 hektare, dengan hasil panen 14 ton pertahun.
"Saya punya 12 karyawan tetap, kalau situasi mendesak pada panen berlangsung, kita pekerjakan 40 orang langsung," kata petani merica Desa Bantilang, Masdin kepada TribunLutim.com, Minggu (7/8/2016).
Lokasi kebun merica di Desa Bantilang berada di daerah perbukitan Gunung Masokkoran dan Batu Putih Danau Towuti.
Ada lima desa di Kecamatan Towuti menjadi lumbung penghasil merica terbesar di Luwu Timur, yaitu Desa Bantilang, Masiku, Tokalimbo, Ranteangin dan Loeha.
Menuju lima desa ini, warga harus menyeberang menggunakan kapal motor jenis rap dari dermaga Desa Timampu Kecamatan Towuti menuju dermaga Desa Bantilang dengan waktu tempuh selama 1,5 jam.
Lima desa ini mampu menyerap tenaga kerja setiap tahun dari luar Sulawesi Selatan, di antaranya warga dari Kendari, Kupang, Palu, untuk lokalan berasal dari Kabupaten Luwu dan Luwu Utara.
Pekerja laki-laki dan wanita digaji perhari Rp 70.000 untuk memetik merica saat panen berlangsung atau bertugas merawat dan memupuk pohon merica.
Khusus di Desa Bantilang, ada 405 Kepala Keluarga yang memiliki kebun merica. Beberapa KK di antaranya menyerap tenaga kerja 30 sampai 40 orang.
Selain itu, mahasiswa-mahasiswi asal lima desa sebagian kecil hanya diberikan karung berisi merica ketika akan berangkat kuliah di Kota Palopo atau Makassar.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Bantilang, Arifin.
"Betul itu, cuma bawa karung berisi merica ke daerah tempat kuliah, bahkan ada orang tua menyuruh anaknya jual merica di Makassar," kata Arifin.
"Hasil jualan merica kemudian disimpan di rekening anaknya, bahkan ada mahasiswa isi rekeningnya Rp 1 M lebih," ujarnya.
Arifin mengetahui hal tersebut ketika mengobrol dengan salah seorang warga yang anaknya kuliah di Kota Palopo, orangtua mahasiswa menceritakan hal tersebut.
Bahkan beberapa orang tua mahasiswa tidak tahu anak mereka kuliah dimana, karena pengaruh fokus terhadap bertani merica.
"Iya, ada orang tua tidak tahu anaknya dimana kuliah, padahal ada kuliah di Universitas Indonesia (UI), di Surabaya, ada juga sekolah di Solo," papar Arifin.
Namun, warga lima desa ini resah dengan pasokan listrik PLN. Setiap hari, hanya menikmati pasokan listrik PLN kurang dari 12 Jam, secara bergiliran.
Listrik mengaliri rumah warga dimulai pukul 17.00 Wita hingga 05.30 Wita. Diluar dari waktu itu, listrik sudah dipadamkan oleh petugas PLN.
Salah seorang warga Desa Bantilang, Aliyas mengaku resah dengan listrik PLN, apalagi pegawai PLN datang menagih hanya menggunakan kwitansi pembayaran tanpa disertai struk pemakaian listrik selama sebulan.
Dia mengaku pernah membayar Rp 600 ribu perbulan tanpa tanpa puas menikmati listrik.
"Hanya kwitansi saja pak, tidak ada data pemakaian perbulan. Terpaksa kami bayar saja," kata Aliyas.
Ada empat mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Desa Loeha, hanya tiga yang masih beroperasi untuk mengaliri listrik bagi warga di lima desa ini.
