Ceu Popong Menilai Semangat Persatuan dan Kesatuan Kini Mulai Luntur

Anggota Komisi X DPR RI, Popong Otje Djundjunan menyebut rasa persatuan dan kesatuan saat ini berbeda dibandung ketika zaman penjajahan.

Ceu Popong Menilai Semangat Persatuan dan Kesatuan Kini Mulai Luntur
Tribun Jabar/Teuku Muh Guci S
Anggota Komisi X DPR, Popong Otje Djundjunan menyampaika. Empat konsensu kepada siswa SMA Pasundan 2 di Jalan Cihampelas, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Selasa (30/8/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Anggota Komisi X DPR RI, Popong Otje Djundjunan menyebut rasa persatuan dan kesatuan saat ini berbeda dibandung ketika zaman penjajahan.

Kala itu bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, budaya, adat, dan lainnya itu bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan yang kuat.

"Itu modal bangsa kita untuk merdeka saat itu. Bagaimana kita saat itu disatukan oleh Pancasila dan Lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan," kata anggota DPR RI yang akrab disapa Ceu Popong kepada Tribun Jabar (Tribunnews.com Network) usai menyambangi SMA Pasundan 2, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Selasa (30/8/2016).

Popong menilai, rasa dan semangat persatuan kesatuan saat ini sudah mulai luntur. Hal itu terlihat banyak peristiwa kerusuhan di beberapa daerah yang dilatarbelakangi unsur suku, ras, antargolongan, dan agama.

"Belum lagi terorisme, narkoba, obat palsu, dan lainnya. Jadi memang ada kekuatan di luar kita yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia setelah reformasi," kata Popong.

Alasan itu, kata Popong, sudah menjadi kewajiban DPR untuk membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan terdahulu. Hal itu untuk mencegah pihak luar yang memiliki kepentingan terhadap Indonesia.

"Kita tahu, Indonesia itu kaya sumber daya alam dan sudah bukan menjadi rahasia lagi siapa yang ingin menguasai kita," kata Popong.

Popong mengatakan, membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan bisa melalui pendidikan. Sebab pendidikan mampu mengubah pola pikir masyarakat untuk kritis dan tidak mudah menerima pengaruh dari luar.

"Selesaikan sekolah, kalau tidak selesai jangan salahkan jika orang asing menguasai kita. Sekarang aja buruh dari Cina masuk ke Indonesia. Kalau kita tidak siap mau apa. Jadi harus pintar, tidak ada jalan lain," kata Popong. (cis)

Penulis: Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved