Sidoarjo Banjir, Janimun 13 Tahun Jaga Pompa Air, Tak Pernah Mengeluh meski Honornya Rp 500.000

Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo pada Minggu (9/10/2016) membuat Janimun (60) kurang tidur.

Sidoarjo Banjir, Janimun 13 Tahun Jaga Pompa Air, Tak Pernah Mengeluh meski Honornya Rp 500.000
surya/irwan syairwan
Janimun di ruang tugasnya. 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Hujan deras yang mengguyur Sidoarjo pada Minggu (9/10/2016) membuat Janimun (60) kurang tidur.

Sebagai petugas operator Rumah Pompa Air (RPA) Sidokare, sudah jadi kewajibannya untuk mengoperasikan mesin pompa air BNB milik Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (PUCK).

"Pukul 16.00 WIB baru saya matikan pompanya setelah tiga hari berturut-turut beroperasi," kata Janimun kepada Surya.co.id, Selasa (11/10/2016).

Tugas kakek 10 cucu dari empat anak ini terbilang sangat berat. Jika telat mengoperasikan mesin pompa, wilayah Sidoarjo Kota mulai dari Larangan, Sidokare, hingga kawasan Jalan Gajah Mada, bisa saja terendam.

Mesin pompanya mampu menyedot 500 liter air per detik. RPA ini menyedot air dari saluran pembuangan air (avur) Sidokare untuk nantinya dibuang ke Sungai Sidokare.

Selain pompa, RPA ini juga memiliki tiga pintu air. Jika hari-hari biasa, Janimun cukup membuka/menutup pintu-pintu air tersebut.

Namun, pada Minggu (9/10/2016) hingga Selasa sore (11/10/2016), ketiga pintu air tersebut ditutup. Sungai Sidokare meluap melebihi batas maksimum pintu air tersebut.

"Kalau sungai meluap sementara pintu air terbuka, kawasan Sidokare, Larangan, hingha Gajah Mada akan kebanjiran selutut," ujarnya.

Janimun sudah 13 tahun menjadi operator RPA Sidokare. Ia pun juga tinggal bersama istrinya di rumah dinas di samping ruangan mesin pompa bersama istrinya.

Meski posisinya tepat di pinggir sungai, rumahnya tak pernah kemasukan air. Mesin pompanya hanya bisa dioperasikan maksimal 20 jam. Setelah diistirahatkan empat jam, mesin tersebut dooperasikan kembali.

Tugas Janimun cukup berat. Kendati demikian, Janimun tetap bersemangat meski dihonor Rp 500.000 per bulan oleh PUCK.

"Dijalani dan disyukuri saja," ujarnya.

Sementara itu, Juniar Maulidin (16) yang hanyut di Sungai Sumput, Sarirogo, berhasil ditemukan jenazahnya. Korban ditemukan 300 meter dari posisi awal hanyut.

Satrio Nuridanto dari Ndantim Rescue menyebutkan korban tersangkut kayu-kayu di kedalaman sungai.

"Sekitar pukul 07.00 WIB, korban kami temukan setelah lima regu tim gabungan TNI, Basarnas, Tagana, dan kami melakukan pencarian. Korban langsung kami evakuasi ke Pusdik Gasum Porong," tukas Satrio.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved