Peran Penting Kepala Sekolah untuk Penguatan Pendidikan Karakter

Kepala sekolah harus memiliki kemampuan menjaring dan mengelola partisipasi guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

Peran Penting Kepala Sekolah untuk Penguatan Pendidikan Karakter
SERAMBI/M ANSHAR/M ANSHAR
Pelajar Sekolah Budi Dharma mengikuti simulasi gempa dan tsunami di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Jumat (4/11/2016). Simulasi itu dilaksanakan oleh Japan International Corporation Agency (JICA) bersama Pemerintah Aceh, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dalam rangka Peringatan Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia. SERAMBI/M ANSHAR 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala sekolah harus memiliki kemampuan menjaring dan mengelola partisipasi guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

Kolaborasi partisipasif dari semua pemangku kepentingan dipercaya mampu memperkuat pendidikan karakter bagi peserta didik.

Hal tersebut terungkap dalam Sosialisasi Penguatan Pendidikan Karakter yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (9/11/2016).

“Sumber belajar bagi siswa itu beragam, melalui dukungan masyarakat seperti orangtua, pegiat seni, komite sekolah, lembaga pemerintah," ujar Arie Budhiman.

"Kepala sekolah harus mampu memanfaatkan sebaik-baiknya semua sumber belajar tersebut,” imbuh Staf Ahli Mendikbud itu.

Menurut Arie, kemampuan kepala sekolah tak ubahnya sebagai manajer yang mampu membangun jejaring semua pihak secara holistik dan terintegrasi.

Ada lima nilai yang menjadi referensi utama dari sosialisasi penguatan pendidikan karakter yang diangkat, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Kelima nilai ini merupakan kristalisasi dari karakter-karakter yang mengakar pada bangsa Indonesia. Sehingga nilai-nilai pendidikan karakter dapat dipelajari semua peserta didik.

Dalam nilai religius, peserta didik dapat meresapi Indonesia sebagai negara beragama. Sehingga peserta didik mampu saling menghargai, menjunjung toleransi antarumat beragama, berakhlak dan bermoral.

Sementara nilai nasionalisme mengacu pada corak keberagaman yang dimiliki, sehingga nasionalisme sangat penting.

"Turunannya adalah bangga dan cinta dengan bangsanya, giat membela negara, mencintai dan memahami keberagaman itu di dalam bingkai kesatuan,” jelas Arie.

Ketiga, nilai kemandirian mengacu pada kesadaran pentingnya menjadi mandiri untuk generasi penerus bangsa, yaitu bagaimana menjadi tangguh dan memiliki daya juang tinggi.

"Keempat, nilai gotong royong yang mengacu pada saling tolong menolong sebagai bangsa Indonesia. Terakhir, nilai integritas menitikberatkan kepada kejujuran," ujar dia.

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved