Sabtu, 25 April 2026

Kepala Buaya Pemangsa Sangkuriang Dipotong, Ini Yang Terjadi

Namun tak sedikit warga yang penasaran dengan isi perut buaya hitam tangkapan pawang buaya, Mang Syarif, tiga hari lalu.

Editor: Hendra Gunawan
Bangka Pos/Fery Laskari
Buaya yang diduga pemangsa Sangkuriang ditangkap. Warga menontong buaya yang sudah diikat oleh pawang. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA - Kepala dan badan 'si hitam' buaya yang diduga memangsa Sagnkuriang alias Siankuri alias Biel (40), terbelah dua.

Dua bagian organ tubuh buaya sepanjang 4 meter bobot sekitar 350 kg itu, dipotong menggunakan senjata tajam, lalu ditanam pada tempat terpisah di bibir Sungai Lubukbunter Desa Kimak Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Rabu (30/11/2016) siang.

Namun tak sedikit warga yang penasaran dengan isi perut buaya hitam tangkapan pawang buaya, Mang Syarif, tiga hari lalu.

Warga menduga, di dalam perut buaya ini, ada organ tubuh manusia, berupa kedua tangan dan pergelangan kaki korban Sangkuriang.

Buaya itu dipotong dua, setelah dinyatakan mati, baru beberapa jam, ditinggal pawang.

Mang Syarif meninggalkan Desa Kimak Merawang, untuk pergi ke kampung halamannya di Desa Bukitlayang Bakam, setelah hampir dua pekan berburu di Sungai Lubukbunter.

Karena itu pula, Mang Syarif balik lagi ke Desa Kimak.

Binatang yang dia tangkap empat hari lalu, dan diletakkan di Lapangan Bola Desa Kimak, dia potong dua, Rabu (30/11/2016) siang. Kepala dan badan buaya diangkut menggunakan truk, dibawa kembali ke bibir Sungai Lubukbunter Kimak.

Dua bagian organ tubuh buaya ditanam pada tempat terpisah, di sepadan bibir sungai yang sama. Proses pemotongan buaya, hingga penanaman bangkainya, dilakukan oleh Mang Syarif, dibantu warga Desa Kimak.

"Setelah buaya ini mati, kemudian kepalanya dipotong oleh pawang, Mang Syarif, lalu dikubur di Bibir Sungai Lubuk Bunter Desa Kimak," kata Kepala Desa (Kades) Kimak, Mustofa, Rabu (30/11/2016) siang.

Namun warga penasaran di dalam perut buaya ini, ada organ tubuh manusia, berupa kedua tangan dan pergelangan kaki korban Sangkuriang.

"Jadi penasaran apa isi perut buaya itu. Jangan-jangan ada tangan dan kaki manusia di dalamnya," celetuk sejumlah warga, Rabu (30/11/2016) siang.

Namun rasa penasaran warga, tetap saja tak terjawab. Sebab, Mang Syarif, hanya memotong kepala buaya. Bangkai buaya yang sudah terbelah dua, kemudian ditanam, tepisah. Sedangkan perut buaya, sama sekali tak dibelah oleh sang pawang.

Kepala Desa (Kades) Kimak, Mustofa menyebutkan alasan pawang tak membela perut buaya hitam.

"Hanya kepala yang dipotong, dan kemudian dikubur secara terpisah antara kepala dan badan buaya. Ini perintah Tokoh Agama Desa Kimak, H Ilyasak," kata Mustofa.

Karena permintaan tokoh agama pula kata Mustofa, Pawang Mang Syarif, tak mau membelah perut atau menunjukan pada masyarakat apa isi perut buaya tangkapannya.

"Karena menurut tokoh agama di sini (Kimak), kalau perut buaya dibelah, dan misalnya ditemukan tangan korban, maka organ tubuh korban itu harus dikuburkan satu liang (satu makam) dengan jasad korban yang sudah lebih dulu dimakamkan, pekan lalu," katanya.

Jika itu terjadi, lanjut Mustofa, prosesnya akan rumit. Makam almarhum Sangkuriang terpaksa dibongkar kembali, hanya demi menyatuhkan organ tubuh (tangan dan pergelangan kaki kanan) korban.

"Oleh karena itu pula, tokoh agama minta agar perut buaya itu tidak perlu dibelah. Dan pihak keluarga sudah diberikan pengertian," kata Mustofa. (Fery Laskari)

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved