Breaking News:

Menuai Rezeki Tahun Baru dengan Berjualan Terompet

Tiap kali jelang Tahun Baru, pasangan suami istri ini sengaja datang ke Surabaya untuk menjual buah karya mereka.

Laporan Wartawan Surya, Pipit Maulidiya

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Suwandi (53) dan Suwarti (51) sibuk membuat terompet tahun baru, untuk dijual. Dari gerakan tangan mereka yang cekatan tak heran jika dalam waktu sekejap bisa membuat puluhan bahkan ratusan bentuk terompet, beraneka ragam.

Tiap kali jelang Tahun Baru, pasangan suami istri ini sengaja datang ke Surabaya untuk menjual buah karya mereka.a

Warga asal Sukodadi Sumber Agung Lamongan ini memanfaatkan halaman sebuah toko yang sduah tidak berfungsi, di pinggiran Jalan Kapasan, Surabaya.

Suwandi mengaku dirinya sudah menjual terompet dari kerkas sejak tahun 1987 silam. Sekian lama berdagang, dirinya menuturkan peminat terompet semakin berkurang.

"Kami melayani pembelian grosir dan bijian. Nah yang sepi itu yang beli bijian. Tapi kalau rejeki pasti ada saja. Cuma memang tak seperti tahun-tahun sebelumnya," katanya saat diaambangi Surya.co.id, Selasa (27/12/2016).

Selama 15 hari sebelum tahun baru, Suwandi dan Istri sudah merantau ke Surabaya. Selama itu mereka tidur dan menjajakan dagangan di tempat yang sama.

"Dari tanggal 14 Desember kami sudah di sini, selama 15 hari. Habis tidak habis kami pulang," katanya tegas.

Menjual terompet memang bukan keseharian Suwandi dan Istri. Dirinya hanya spesialis terompet saat menjelang Natal, Tahun Baru dan Imlek.

Selepasnya pria yang akrab disapa Wandi ini adalah penjual mainan di Pasar Pesapen Surabaya,sementara istri seorang petani di Lamongan.

"Biasanya kami bisa dapat Rp 5 juta sampai Rp 4 juta. Tahun kemarin dapat bahkan nggak sampai Rp 3 juta, dari harga terompet kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 25 ribu," tambah Suwarti.

Penurunan jumlah peminat terompet ini menurut Suwandi banyak faktor. Salah satunya adalah dengan banyaknya produksi terompet dari plastik.

"Perkiraan begitu. Soalnya menurut mereka lebih awet. Untuk itu produksi terompet, kami selalu perbarui. Inovasi. Misalnya dilapisi kertas hias yang menarik, lalu katup peluitnya dibuat dari bambu jadi tidak mudah rusak," jelas bapak dua anak ini. (*)

Editor: Mohamad Yoenus
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved