Arif Mengaku Lolos dari Bisikan untuk Bunuh Diri, Ini Pengalamannya
Perbuatan nekat Pahinggar Indrawan (35), pria yang tewas bunuh diri dan menayangkannya secara live di akun Facebooknya memancing sejumlah reaksi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ibnu Taufik
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Perbuatan nekat Pahinggar Indrawan (35), pria yang tewas bunuh diri dan menayangkannya secara live di akun Facebooknya memancing sejumlah reaksi dari publik.
Rata-rata, netizen menyayangkan perbuatan Pahinggar yang sebenarnya dimaksudkan untuk "protes" terhadap istrinya tersebut.
Perbuatan nekat Pahinggar ini juga disikapi oleh pemilik akun Arif Rh yang kemudian menuliskan pengalaman pribadinya di akun miliknya.
Di akun facebooknya tersebut ia mengaku beberapa kali memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri lantarandepresi.
Tribun Jogja mencoba menghubungi yang bersangkutan namun hingga tulisan ini diturunkan belum ada respon dari Arif RH.
Meski demikian, postingan Arif Rh ini bisa diakses oleh publik dan mendapat respon positif lantaran dinilai menginspirasi. Postingan tersebut bahkan dibagikan hingga 134 kali.
"Saya belum melihat video itu. Video itu juga sudah dihapus olehFacebook dan juga Youtube. Meski demikian, hingga Sabtu (18/3/2017) masih banyak akun yang menuliskan dan mengomentari fenomena itu," tulis Arif sebagai pembuka postingannya.
Ia juga mengaku terdorong untuk membuat tulisan terkait dengan fenomena tersebut lantaran ia mengaku pernah memiliki dorongan untuk melakukan aksi bunuh diri. "Serius, saya tidak bercanda," tulisnya menegaskan.
Alami Depresi
Arif menuliskan dorongan bunuh diri itu terjadi saat ia mengalami depresi karena persoalan cinta dan permasalahan lain yang ia anggap terlalu berat.
Namun di paragraf ini, ia mengatakan bahwa permasalahan berat yang ia alami ternyata bersifat relatif.
"Padahal setelah saya flashback ke belakang, bukan persoalannya yang berat. Saya menilai itu berat karena kapasitas saya, yang masih sangat kecil. Kalau dalam bahasa psikologi, coping stress (kemampuan mengatasi stres) saya kecil. Saat coping stress kecil, maka persoalan kecil pun, akan terasa sangat berat," tulis Arif.
Arif bersyukur, beberapa kali niatan bunuh diri tersebut tidak sampai pada level tindakan.
"Dorongan itu beberapa kali muncul, memang tidak sampai pada level tindakan. Tapi nyaris, karena sering muncul dalam pikiran, bahkan sering ada suara di telinga seperti halusinasi. Saat saya membaca buku-buku psikologi, itu tandanya depresi yang saya lamai nya cukup berat."
Ia melanjutkan, munculnya niat bunuh diri tersebut juga sudah mengarah pada memikirkan cara yang paling tidak menyakitkan untuk mengakhiri hidup.
"Di kamar saya, di kost-kost-an saya di Purwokerto, saya sudah memikirkan, cara bunuh diri bagaimana yang paling tidak menyakitkan. Saat itu, terpikir sebuah cara, namun foto-foto kedua orangtua saya menyelamatkan saya," imbuhnya.
Pelajaran
Arif juga membuat semacam analisa tentang pengalamannya tersebut dan ia lihat pada masa kekinian.
Ia mengatakan bahwa dorongan tersebut muncul lantaran saat itu ia mengindentikkan dirinya sebagai manusia yang mudah sekali melekat pada sesuatu hal. Artinya ia semacam menuhankan sesuatu. selain dzat Tuhan.
"Contohnya apa? Misal jika anda seorang pria, dan anda sangat mencintai seorang wanita. Lihat bagaimana lagu-lagu cinta, memprogram kemelekatan 'Kaulah napasku, kaulah alasan aku hidup, kaulah jiwaku, kaulah darahku, aku tak bisa hidup tanpamu'. Ini adalah ekspresi kemelekatan ... Menuhankan manusia," tulisnya.
Menuhankan selain Tuhan bagi Arif adalah bunuh diri secara spiritual secara perlahan. Akhirnya saat melihat orang bunuh diri, termasuk yang disiarkan secara langsung menganggapnya sebagai sebuah lelucon.
Orang melihat, masalah yang menjadi alasan orang bunuh diri tersebut tidaklah relevan dan pernah mengalami masalah serupa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/arif-rh_20170320_032007.jpg)