SDN 207 dan 208 Kertapati Palembang Puluhan Tahun Tak Kenal Upacara Bendera
SDN 207 Palembang berada di tengah rawa dan memang tidak mendukung bisa dilaksanakannya upacara bendera yang memerlukan area atau lapangan.
TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Bagaimana rasanya berbaris rapi mengikuti pelaksanaan upacara bendera merah putih setiap Senin atau pada hari-hari tertentu, sama sekali belum pernah dirasakan siswa SD Negeri 207 Palembang.
Bahkan sejak berdiri pada tahun 1983, sekolah yang berlokasi di kawasan Jalan Swakarya Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati, Palembang ini belum pernah sekali pun menggelar upacara bendera.
Jangankan untuk menggelar upacara bendera 17 Agustus memperingati hari Kemerdekaan RI, upacara bendera setiap hari Senin pun tiada.
Sehingga siswa pun sama sekali belum pernah tahu tata cara memberikan hormat kepada bendera merah putih.
Lebih miris lagi, beberapa siswa SD Negeri 207 Palembang, khususnya siswa kelas 2, tidak tahu apa itu upacara bendera.
"Upacara bendera kami tidak tahu kak, kalau bendera tahu kak," ujar Fatir, siswa kelas 2 kepada Sriwijaya Post pada hari pertama masuk sekolah, Senin (17/7/2017).
Dari pantauan Sriwijaya Post, SDN 207 Palembang berada di tengah rawa dan memang tidak mendukung bisa dilaksanakannya upacara bendera yang memerlukan area atau lapangan.
Meskipun halaman sekolah cukup luas, namun hanya terdiri dari genangan air yang dalam dan berlumpur.
Tiang bendera berdiri kokoh di samping rawa-rawa dan berada di tepi jalan setapak ke arah sekolah. Bendera merah putih pun tampak berkibar menyambut datangnya siswa ke sekolah.
Kondisi tak jauh berbeda juga terjadi di SD Negeri 208 berjarak 200 meter dari SDN 207 Palembang.
Dari pantauan Sriwijaya Post, halaman sekolah tersebut juga terdiri dari rawa-rawa. Namun di sekolah ini tak ada yang bersedia memberikan keterangan.
Meski demikian, celoteh beberapa siswa cukup untuk menjelaskan murid di sekolah itu pun tak pernah menggelar upacara bendera.
Sementara saat kembali ditanyakan kepada beberapa siswa di SDN 207 Palembang, sebagian besar siswa menjawab tidak tahu bagaimana tata cara pelaksanaan upacara bendera.
"Idak tahu kak cak mano upacara bendera tu (Tidak tahu kak bagaimana upacara bendera itu). Aku sekarang sudah kelas 6 dan dari masuk kelas 1 belum pernah nian melok (ikut) upacara bendera. Jadi memang tidak tahu nian apa itu upacara bendera," ujar Syifa (11), siswa kelas 6.
Siswa SD Negeri 207 Palembang yang sama sekali tidak pernah merasakan upacara bendera, sangat berdampak bagi siswa yang tamat sekolah.
Salah satunya dirasakan Sahri (13), tamatan SD Negeri 207 yang kini melanjutkan ke sekolah tingkat SMP.
Sahri pun mengakui terkejut saat masuk SMP ada upacara bendera.
"Dari sekolah SD aku tidak pernah upacara bendera, tapi masuk SMP ini ada upacara bendera. Memang terkejut, tapi aku tetap mengikuti upacara bendera," ujar Sahri sembari tersenyum ketika ditanyai apakah kepingin menjadi petugas pengibar bendera.
Maryati (58), guru paling senior di SDN 207 Palembang mengakui sekolah tempatnya mengajar tak pernah menggelar upacara bendera.
Ia yang mengajar pelajaran agama ini mengakui, SD Negeri 207 berdiri sejak tahun 1983 dan ia mulai mengajar ada tahun 1984.
"Belum pernah sama sekali melaksanakan upacara bendera, untuk olahraga saja siswa terpaksa di ruangan kelas," ujar Maryati.
Diakui Maryati, kondisi bangunan sekolah baru beberapa tahun ini terlihat bagus.
Dulunya bangunan sekolah sangat memprihatinkan yang berada di tengah rawa-rawa. Bahkan sebelumnya ada bangunan sekolah yang ambruk.
"Dulu mau mengajar saja, guru pakai sepatu boot. Jangan untuk upacara bendera, akses sekolah saja susah sekali. Menutupi tidak adanya upacara bendera, siswa kami berikan kegiatan pramuka, agar sikap nasionalisme siswa tetap ada dan cinta dengan negara," ujar Maryati.
Sementara itu Kepala Sekolah SDN 207 Palembang Yulianis S.Pd SD yang baru terhitung enam bulan menjabat, mengakui sedikit terkejut.
Melihat kondisi area sekolah yang dikelilingi rawa, memang tidak memungkinkan bisa menggelar upacara bendera.
"Bagaimana mau upacara, lihat saja halaman sekolah rawa-rawa. Memang upacara itu wajib untuk di sekolah, tapi kondisi sekolah seperti ini. Saya saja yang dulunya sering jadi pembina upacara, kini tidak pernah lagi," ujarnya.
Sebagai solusi agar siswa tetap ada sikap cinta tanah air meskiun tidak upacara bendera, Yulianis mengatakan, para siswa tetap diberikan pemahaman tentang sikap cinta tanah air.
Salah satunya diisi kegiatan pramuka. Bahkan dulunya tiang bendera dari batang bambu, kini sudah dibuatkan dengan tiang besi dan bendera merah putih yang berkibar tiap harinya.
"Pastinya bendera merah putih tetap berkibar dan sengaja posisinya diletakkan di jalan masuk ke area sekolah. Penjaga sekolah ditugaskan secara khusus untuk menaikkan dan menurunkan bendera," ujarnya.
Yulianis bersama guru lainnya pun sudah membuat proposal untuk meminta bantuan agar dibuatkan halaman sekolah yang tujuan menggelar upacara bendera.
"Kami sedang mengajukan proposal ke pihak-pihak swasta. Kalau diknas sudah tahu dengan kondisi sekolah saat ini. Kalau untuk sarana lain semuanya tidak masalah dan hanya tidak bisa menggelar upacara bendera. Jumlah siswa kami saat ini ada 301 siswa dan itu pun untuk kelas 3 dan 4, jadwalnya siang. Karena ruang kelas kurang atau tidak mencukupi kalau semuanya dijadwalkan untuk pagi," ujarnya.
Ingin Jadi Pengibar Bendera
Syifa (11), siswa kelas 6 SD Negeri 207 Palembang terlihat penasaran saat ditanya keinginannya untuk mengikuti upacara bendera.
Syifa bersama teman sekelasnya Zuleha, Suci dan Alfin, mengaku ingin merasakan bagaimana ikut upacara bendera itu. Karena sekolah lainnya selalu rutin melaksanakan upacara bendera tiap Senin pagi.
"Pengen upacara bendera, karena kawan-kawan di sekolah lain mereka selalu upacara bendera. Sedangkan kami tidak pernah," ujar Syifa dan teman-temannya dengan mata berbinar.
Bukan hanya SD Negeri 207 Palembang yang sejak berdirinya sekolah belum pernah menggelar upacara bendera.
SD Negeri 208 Palembang yang berdekatan juga tidak pernah upacara bendera. Kedua sekolah itu kondisinya sama, halaman yang berada di tengah sekolah hanyalah rawa-rawa.
"Pengen kak jadi pengibar bendera, kami pernah lihat sekolah di SD Negeri 205 yang setiap hari senin mereka upacara bendera," ujar Novita (9), siswa SD Negeri 208 Palembang.
Novita bersama dua temannya yakni Arin dan Nadira, sangat membayangkan bisa menjadi petugas pengibar bendera yang dilihatnya di televisi dan sekolah lainnya.
"Kami lihat pengibar bendera itu hebat sekali kak, kepengen nian rasonyo bisa menggerek bendera," ujar Novita dan teman-temannya hanya hanya bisa memandangi tiang bendera di sekolahnya yang sudah tampak miring. (Welly/Husin/Sripo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sdn-207-dan-208-kertapati-siswanya-tak-pernah-upacara-bendera_20170720_085009.jpg)