Senin, 15 Juni 2026

Ketika Para Mantan Teroris Bertobat, Umis Sholihah Berharap Jangan Sampai Suaminya Kambuh Lagi

Keluarga mantan narapidana teroris (napiter) dan kombatan kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku sambil melambaikan bendera merah putih.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Surya/Hanif Manshuri
Peserta upacara Kemerdekaan ke-72 RI di komplek para mantan teroris di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Kamis (17/8/2017). SURYA/HANIF MANSHURI 

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN - Sebuah pemandangan unik terjadi di Tanjung Kodok Beach Resort, Kabupaten Lamongan, Minggu (20/8/2017).

Keluarga mantan narapidana teroris (napiter) dan kombatan kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku sambil melambaikan bendera merah putih.

Mereka menyanyi lagu tersebut bersama Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Bupati Lamongan Fadeli, dan Wakil Bupati Kartika Hidayati. Di antara anak-anak itu ada tiga keluarga pasangan Umi Sholihah (36) dan Agus Martin (36).

Agus Martin merupakan mantan napi teroris terpidana 4 tahun yang baru keluar pada 2016 lalu.

"Harapan saya, suami tidak kambuh lagi (jadi teroris). Jangan sampai kambuh," kata Umis Sholihah.

Tanpa disadari Umi Sholihah meneteskan air mata, teringat saat suaminya ditangkap dan kemudian divonis empat tahun penjara.

"Maaf saya menangis, ingat masa lalu, saat suami saya masuk penjara. Pokoknya doa saya, jangan sampai kambuh lagi," ungkap Umi sembari sesekali menyeka air matanya.

Ia mengaku kehidupannya sangat susah dan tersiksa sejak suaminya harus menjalani hukuman di penjara. Selama Agus Martin menjalani hukuman, Umi hanya bisa sekali menjenguk.

Bukan karena dilarang atau dipersulit petugas, namun semata karena ketidakmampuannya secara ekonomi.

"Selama tiga tahun, saya hanya bisa sekali bisa berkunjung. Itu karena saya memang tidak punya biaya," aku Umi Sholihah.

Belum lagi anak ketiga saat itu masih menyusui dan baru berumur beberapa bulan.

Ia mengaku sangat senang terkait lahirnya sebuah wadah yang diberi nama Yayasan Lingkar Perdamaian (LP). Organisasi itu beranggotakan para mantan narapidana teroris (napiter) dan para mantan kombatan.

Menurut Umi, apa yang diungkapkannya sama dengan para istri mantan napiter dan kombatan yang sekarang bergabung dengan Yayasan Lingkar Perdamaian.

Baca: Ayah Bejat Cabuli Anak Kandung dan Hamili Keponakan Akhirnya Ditangkap Polisi

"Semoga tidak kambuh lagi, hanya itu doanya," katanya.

Agus Martin, asal Bekasi, mengungkapkan masa lalunya itu menjadi catatan yang tidak akan pernah diulang lagi. Pemasok senjata api laras pendek ini mengaku saat ini ia hanya berkonsentrasi pada pekerjaan di CV Attaubah.

"Tentu juga mempersiapkan diri untuk bekal ke akhirat kelak," ungkapnya.

Ia mengaku sangat bangga pada ketiga anaknya yang tampil memegang bendera merah putih dan ikut menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku.
"Tidak, tidak ada paksaan. Itu murni tulus, " katanya.

Mengapa ikut bergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian? Agus Martin mengatakan tak ada paksaan dari pihak manapun terhadap dirinya.

"Ini (Indonesia) rumah kita. Insyaallah harus kita rawat dan kita jaga," tandasnya.

Program Khusus
Agus Martin yang tinggal di Desa Tenggulun, satu kampung dengan keluarga besar Trio bomber Bali (Amrozi, Muchlas, dan Ali Imron), ditangkap pada 2013 saat sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Balai Desa Tenggulun.

Baca: Dua Aktor Serial India Gagan Kang dan Arjit Lavania Tewas Kecelakaan

Pagi itu ia ditangkap anggota Densus 88 Antiteror karena berperan sebagai pemasok senjata api (senpi).

"Saat itu saya memasok sebanyak 9 senpi ke beberapa jaringan," akunya tanpa mau membeberkan jaringan siapa saja.

Kementerian Sosial sudah menyiapkan sejumlah program untuk masa depan dan kelangsungan hidup para mantan narapidana terorisme dan mantan kombatan beserta keluarganya.

"Kita bisa menyebutnya live skill atau vocational training. Di Kemensos ada program itu selama ini untuk eks narapidana terorisme," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Kemensos menjalin kemitraan dengan Yayasan Lingkar Perdamaian, yang diketahui mantan kombatan Ali Fauzi Manzi.

"Kami baru menemukan format setelah bertemu Ustaz Ali Fauzi," ujarnya dalam pertemuan antara Menteri Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mantan kombatan Ali Fauzi, anak bungsu almarhum Amrozi yang bernama Zulia Mahendra, dan sejumlah eks narapidana terorisme beserta keluarganya.

Khofifah berharap, program live skill atau vocational training bisa sesegera mungkin bisa dilaksanakan.

Menurut Khofifah, live skill atau vocational training bisa dijalankan dalam kelompok yang punya kesamaan dalam sebuah minat. Seperti di bidang pertanian sudah punya mitra di Sukabumi, sedang handycraft (kerajinan tangan) ada mitra di Yogya dan Bandung. (surya/hanif manshuri/aflah)

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved