Demi Uang Jajan Cucu dan Cicitnya, Nenek Tembok Rela Berjualan di Bawah Terik Matahari
enek berusia sekira 75 tahun rela berjualan mengelilingi Kota Bandung demi dapat memberi cucu dan cicitnya uang jajan.
Editor:
Sugiyarto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Rezeqi Hardam Saputro
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Nenek berusia sekira 75 tahun rela berjualan mengelilingi Kota Bandung demi dapat memberi cucu dan cicitnya uang jajan.
Adalah nenek Tembok yang sehari-hari membawa keranjang berukuran kecil yang berisikan barang dagangannya semisal permen, vitamin c, hingga tisu.
Saat ditemui wartawan Tribun Jabar, Minggu (27/8/2017) terlihat nenek Tembok sedang duduk di pinggir jalan sambil berharap pembeli datang menghampirinya.
"Nenek lagi jualan aja, sambil duduk-duduk liat orang-orang olahraga, siapa tahu ada yang datang beli dagangan nenek," ujat Nenek Tembok sambil tersenyum ramah.
Baca: Gadis 20 Tahun Ini Mati Mendadak Gara-gara Minum Pil KB, Kok Bisa? Ini Pemicunya
Nenek yang sudah terlihat sedikit bungkuk ini juga mengatakan meski sudah tua dirinya harus tetap berjualan untuk kebutuhan hidupnya.
Selain itu, lanjut Nenek Tembok, dirinya juga berjualan agar dapat memberi uang jajan kepada cucu dan cicit-cicitnya.
"Kasian cucu dan cicit nenek kalau tidak bisa jajan, pasti mereka sedih," ujar nenek Tembok.
Nenek Tembok juga bercerita dirinya telah memililih enam belas orang cucu dan enam cicit.
"Nenek udah punya anak lima, terus udah punya enam belas cucu dan enam cicit. Nah cucu dan cicit nenek suka minta uang jajan. Sedih kalau nenek gakbisa kasih," ujar Nenek Tembok.
Nenek Tembok juga mengatakan saat ini dirinya tinggal disebuah rumah kecil di daerah Sukajadi bersama seluruh keluarganya.
Saking kecilnya , lanjut nenek Tembok, rumah yang ia tempati seperti rumah ayam.
Baca: Peras Kelompok Tani, 7 Anggota LSM di Banyuasin Ini Ditangkap Polisi
Meski demikian, nenek Tembok mengaku dirinya tetap bersyukut sama Allah.
"Walapun rumah nenek kecil kaya kandang ayam, nenek tetap bersyukur sama Allah masih dikasih rezeki," ujar nenek Tembok yang terlihat matanya berkaca-kaca.
Nenek Tembok juga mentakan harapannya agar suatu saat cucu dan cicitnya dapat mandiri, tidak tergantung pada orang lain.
Selain bekerja untuk menghidupi dirinya dan memberi uang cucu dan cicitnya, nenek Tembok juga bercerita masih memiliki seorang Ibu yang haris ia biayai.
"Nenek masih punya Ibu di Brebes, umurunya udah sekira 100 tahun dan udah tidak bisa apa-apa," ujar nenek Tembok dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Nenek Tembok mengatakan setiap bulan dirinya harus mengirim uang untuk orang yang mengurus ibunya di Brebes.
Kalau tidak dikirim uang, lanjut nenek Tembok, Ibunya akan terlantar dan tidak ada yang mengurusnya.
Meski demikian, nenek Tembok mengaku dirinya ikhlas bekerja untuk Ibu dan juga cucu, dan cicit-cicitnya. (*)