Megawati: Sejarah Menuntun untuk Berani Berdealektika

Presiden Kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan, ilmu pengetahuan yang ditanamkan melalui pendidikan, tidak berdiri sendiri.

Megawati: Sejarah Menuntun untuk Berani Berdealektika
Lendy Ramadhan
Universitas Negeri Padang (UNP) menganugerahi Presiden Kelima RI , Megawati Soekarnoputri, Doktor Honoris Causa di bidang politik pendidikan. Penghargaan tersebut diberikan di auditorium UNP, Jalan Prof. Dr. Hamka, kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (27/9/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, PADANG- Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri mengungkapkan, ilmu pengetahuan yang ditanamkan melalui pendidikan, tidak berdiri sendiri. Selalu ada relasi antara ilmu pengetahuan dengan kekuasaan. Filsuf Prancis, Michel Foucoult membongkar relasi tersebut.

Hal ini ia ungkapkan dalam orasi ilmiah tentang politik pendidikan, di Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (27/9/2017).

Universitas Negeri Padang menganugerahi Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan ini, Doktor Honoris Causa di bidang politik pendidikan.

Dalam kesempatan itu Megawati mengatakan,kekuasaan selalu teraktualisasi melalui pengetahuan dan pengetahuan selalu memiliki efek kuasa. Dan di balik ilmu pengetahuan selalu ada ideologi politik.

"Contohnya, sejarah kolonial Belanda yang semakin menancapkan kekuasaannya di Hindia Belanda dengan politik etis, yang juga dijalankan melalui bidang pendidikan. Politik etis atau politik balas budi dimulai pada tahun 1901, yang seolah membuka akses pendidikan bagi rakyat pribumi," papar Megawati.

"Padahal, maksud politik yang sebenarnya adalah agar kolonialisme tetap bertahan, dengan diperkuat oleh tenaga cakap pribumi yang dibayar dengan murah," lanjutnya.

Sebagai antitesa dari politik etis, ungkap Megawati, kemudian lahir gerakan perlawanan rakyat Indonesia yang lebih terorganisir. Menurut Wahidin Sudiro Husodo, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan adalah rakyat harus cerdas.

Ia menganjurkan agar para siswa STOVIA, ketika itu, sambung Megawati, mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa.

Pemikiran tersebut mendorong Dr. Sutomo, Dr Cipto Mangunkusumo dan Gunawan Mangunkusumo untuk mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908.

Ia yakin, sejarah selalu dinamis, selalu ditandai dengan perubahan. Dan, perubahan demi perubahan dalam sejarah Indonesia dipengaruhi oleh pemikiran para pendiri bangsa.

Halaman
123
Penulis: Lendy Ramadhan
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved