Erupsi Gunung Agung
Hal Ini Terjadi Pada Kawah yang Menunjukkan Gunung Agung Siap Meletus
selama pengamatannya dua hari terakhir, asap putih mulai rutin terlihat keluar dari kawah Gunung Agung.
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Erwin Widyaswara
TRIBUNNEWS.COM, BALI - I Gede Suantika, Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, membenarkan sudah terjadi rekahan-rekahan pada kawah Gunung Agung.
Setelah terjadi rekahan, menurut Suantika, gunung api berpotensi terjadi gempa tremor dan keluar lava.
"Iya ke arah sana (tremor dan keluarnya lava). Jadi kemungkinan aliran lava akan datang dari sana," kata Suantika kepada awak media melalui sambungan telepon, Jumat (29/9/2017).
Suantika mengungkapkan, selama pengamatannya dua hari terakhir, asap putih mulai rutin terlihat keluar dari kawah Gunung Agung.
Padahal, sebelumnya asap jarang terlihat, dan bahkan tidak pernah terlihat dari jauh.
"Dulu kan uap putih itu tidak bisa kita lihat dari jauh, hanya bisa dilihat dari kawah saja. Sekarang kan sudah bisa dilihat dari jauh. Artinya tekanan gas yang keluar ya itu makin besar," paparnya.
Keluarnya asap secara rutin dari kawah Gunung Agung ini, lanjut Suantika, dimungkinkan karena adanya perluasan area solfatara. Suantika kembali menegaskan, saat ini Gunung Agung masih level IV (Awas), dan masih kritis.
"Jadi sudah siap mau meletus," tegasnya.
Devi Kemil, Kasubid Mitigasi Gunung Api PVMBG Kementerian ESDM menambahkan, dari citra satelit, telah terlihat sobekan atau rekahan di kawah gunung Agung.
Terlihatnya rekahan ini seiring meningkatnya aktivitas vulkanik di tubuh Gunung Agung.
"Di tengah ada sobekan kecil, dan ada asap keluar dari sana.Penyebabnya ya karena ada gempa yang kita rasakan selama ini. Kalau cairan lava belum keluar," tutur Devi Kemil, Kamis (28/9/2017).
Adanya rekahan itu, menurut Devi, menunjukan manifestasi pergerakan magma yang terus menuju ke permukaan.
Selain rekahan kawah, pencitraan satelit juga menunjukan citra panas yang makin meningkat. Berdasarkan pantauan sejak Juli 2017, peningkatan citra panas makin signifikan di Bulan September 2017.
Peningkatan citra panas juga seiring makin tingginya intensitas gempa, baik vulkanik maupun tektonik. Berdasarkan pantauan terakhir, ukuran citra panas berkisar pada luasan 100-120 m².
"Tidak bisa pastikan, tapi kisaran 100-120 meter di sisi timur laut," cetus Devi.
Meskipun terlihat citra panas, adanya pergerakan magma sampai ke permukaan belum terlihat. Namun demikian, adanya kedua indikasi ini tentu menunjukan pergerakan magma menuju permukaan.
Tapi apakah nanti sampai terjadi letusan atau tidak, Kemil belum berani memutuskan. Hanya, dari beberapa pantauan yang dilakukan menggunakan alat, semua mengarah ke letusan.
"Semuanya yang kita rekam mengindikasikan yang sama," jelas Devi.
Meskipun sudah ada indikasi magma bergerak ke permukaan, belum bisa dipastikan apakah magma akan sampai di permukaan.
Sebab, menurut Devi, ada beberapa contoh di dunia bahwa setelah terjadi gempa-gempa yang cukup sering, magma malah habis.
"Tentunya juga yang kita ingin. Tapi kan keinginan kita harus dibarengi dengan kesiapan dengan skenario terburuk. Kita boleh berharap yang terbaik, tapi harus siap dengan yang terburuk," paparnya.
I Wayan Erwin Widyaswara/Tribun Bali