Sabtu, 11 April 2026

Ganjar Minta Perjuangan Kiai Ageng Gribig Dipublikasikan

Banyak tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Jawa Tengah yang hingga kini namanya masih dikenang. Perjuangan mereka perlu diceritakan.

Editor: Y Gustaman
Tribun Jateng/M Nur Huda
JATINOM - Suasana acara budaya dan tradisi sebar Apem Yaqowiyu Kiai Ageng Gribig Jatinom di Desa Kajen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jumat (3/11/2017). TRIBUN JATENG/M NUR HUDA 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNNEWS.COM, KLATEN – Banyak tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Jawa Tengah yang hingga kini namanya masih dikenang.

Tak hanya mengenang namanya, generasi mendatang juga perlu tahu kiprah dan perjuangan mereka. 

Hal itu disampaikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menghadiri acara budaya dan tradisi sebar Apem Yaqowiyyu Kiai Ageng Gribig Jatinom di Desa Kajen, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jumat (3/11/2017).

Acara ini biasanya digelar pada Jumat kedua bulan Safar atau Sapar. Sehingga sebagian orang menyebutnya tradisi Saparan.

"Tadi saya ke sini, di medsos ada yang komentar, hati-hati jangan sampai syirik. Lho, belum-belum kok dikatakan syirik. Dulu para Walisongo kan juga menyebar Islam menggunakan kebudayaan," kata Ganjar kepada tribunjateng.com.

Dikatakan Ganjar, pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram yang semula Hindu berubah menjadi Islam, dan masyarakat sampai saat ini pun bisa hidup rukun.

Event kebudayaan seperti sebar apem mengandung nilai-nilai ajaran agama, sehingga perlu diceritakan secara lengkap kepada generasi muda untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

“Para kasepuhan ini mesti bisa menceritakan, jangan sampai hilang cerita itu (Perjuangan Kyai Gribig), sebab dulu masuknya kan tentu tidak tiba-tiba, menggunakan cara halus, baik, dan semua ada filosofinya,” ungkap Ganjar. 

Cerita-cerita tersebut bisa disampaikan  melalui media sosial. Misalnya, siapakah Kiai Ageng Gribig, bagaimana bisa datang ke Jatinom, dan dahulu apa yang diajarkan dan seterusnya.

Masih kata Ganjar, cerita-cerita itu juga perlu disampaikan supaya masyarakat tidak salah paham.

Ia mencontohkan di Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, terdapat makam seorang pejuang Islam yaitu Pangeran Samudro. Banyak peziarah datang ke sana.

"Tapi sampai saat ini ceritanya berbeda. Dan saya ke sana, kok jadinya seperti itu, ternyata ceritanya berbeda. Misalnya kalau ingin dapat pangkat dan rezeki datang ke sini dan begini, kumpul dengan istri orang lain. Ini kan sesat,” ungkap dia.

Ganjar kembali menegaskan, agar dalam ‘nguri-uri’ kebudayaan juga diceritakan lengkap mengenai perjuangan para pendahulu dan manfaat apa yang bisa dirasakan umat manusia saat ini.

Acara tahunan ini dihadiri ribuan warga di sekitar makam Kiai Ageng Gribug dan Sendang Kalmpeyan, tempat di mana apem sebanyak 5 ton dibagikan ke warga. Hadir pula Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved