Gubernur Ganjar Bicara Ekspor Tembakau di Hadapan Ratusan Wartawan

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo siap mendorong tembakau agar mampu diekspor ke luar negeri untuk menambah supply keuangan negara melalui cukai.

Editor: Y Gustaman
Tribun Jateng/Alex
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menyatakan dukungannya untuk para petani tembakau di Puri Agung Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Alexander Devanda Wisnu

TRIBUNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo siap mendorong tembakau agar mampu diekspor ke luar negeri untuk menambah supply keuangan negara melalui cukai, Senin (20/11/2017).

Ganjar mengatakan dirinya mendukung penuh kesejahteraan petani tembakau di Jawa Tengah.

"Konsumsi rokok di Jawa Tengah berada di angka 13,17 persen itu cukup tinggi. Kami berusaha merubah pola pikir masyarakat," kata Ganjar di kegiatan pelatihan wartawan daerah Bank Indonesia 2017 di Hotel Grand Sahid Jaya, di Jakarta.

"Memang rokok berbahaya, namun harus dilihat dari sisi supply keuangan negara. Jika diekspor mampu menambah keuangan negara," Ganjar menambahkan.

Ia berpendapat angka inflasi bisa ditekan dengan menggunakan aplikasi sihati.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memetik tembakau dalam Ritual Petik Daun Tembakau dalam rangkaian acara Festival Tungguk Tembakau di Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Kamis (3/8/2017). TRIBUN JATENG/M NUR HUDA
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memetik tembakau dalam Ritual Petik Daun Tembakau dalam rangkaian acara Festival Tungguk Tembakau di Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Kamis (3/8/2017). TRIBUN JATENG/M NUR HUDA (Tribun Jateng/M Nur Huda)

"Inflasi di Jawa Tengah berada di angka 3,47 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional di angka 3,07 persen. Kami mampu berkoordinasi melalui sihati, Presiden juga berencana menggunakan sihati," tutur dia.

Kegiatan pelatihan wartawan daerah yang diselenggarakan Bank Indonesia diikuti 580 wartawan dari seluruh Indonesia selama dua hari mulai 19-20 November 2017.

Selain itu, kenaikan harga beras sekitar 10 persen menambah 1,2 juta orang miskin baru.

"Inflasi di Jawa dan Sumatera dipicu oleh peningkatan harga cabai merah dan beras. Secara keseluruhan Sumatra memiliki inflasi 0,23 persen dan Jawa 0,02 persen," ungkap Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan.

Terdapat empat pembicara pada sesi pertama yakni Yoga Affandi, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Lana Soelistyoningsih pengamat Ekonomi Samuel Sekuritas, dan Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Yoga Affandi berharap agar inflasi mampu terus distabilkan supaya daya beli masyarakat kembali tinggi.

"Inflasi menjadi indikator penentu Upah Minimum Provinsi (UMP). Inflasi yang rendah juga akan mampu mensejahterakan masyarakat," pungkas Yoga.

Sumber: Tribun Jateng
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved