Breaking News:

Pilgub Jawa Barat

Ongkos Politik Jadi Kepala Daerah Mahal Ridwan Kamil Usul Saksi-saksi Dibiayai Negara

Ridwan Kamil mengusulkan agar proses untuk menjadi kepala daerah dibiayai oleh negara, salah satunya adalah menggaji saksi.

IST
Calon gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama istrinya Atalia saat berswafoto bersama alumni UC Berkeley usai acara Udunan Warga di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu(24/2/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Demokrasi di Indonesia dinilai terlalu mahal harganya. Karena itulah banyak calon-calon kepala daerah mengambil jalan pintas dengan bersikap korup demi membiayai urusan kampanye politiknya supaya bisa menduduki kekuasaan.

Terkait hal tersebut calon gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengusulkan agar proses menjadi kepala daerah dibiayai oleh negara, salah satunya adalah menggaji saksi.

"Mimpi saya itu ya, supaya orang kayak saya itu enggak susah gitu ya saksi-saksi itu dibayar oleh negara setuju enggak, sehingga kita fokus saja kepada penyampaian visi misi saja," kata Ridwan Kamil di sela-sela acara Udunan Warga di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu(24/2/2018).

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini menjelaskan mahalnya biaya untuk menjadi seorang kepala daerah, bahkan hanya untuk membayar saksi saja harus menghabiskan dana Rp 30 miliar lebih.

"Contohnya begini ya, saksi saja minimal dua orang ini dari cost ya dua orang kali per kegiatan mereka dibayar 100 ribuan kali dua sudah 200 ribuan kali dua lagi sudah 400 ribu kali 75 ribu titik sudah 30 miliar hanya untuk saksi saja," kata Kang Emil.

Belum, kata dia saat salah seorang kandidat butuh kaus, spanduk, brosur kalender dan lainnya, akan ada dana yang dikeluarkan lagi.

"Itu baru saksi saja, belum ujung-ujungnya yang namanya kampanye orang butuh kaus, spanduk, brosur kalender dll, makanya nilainya besar," ujar Wali Kota Bandung ini.

Kang Emil juga mengusulkan adanya saksi-saksi yang bisa bersikap netral, semacam seorang hakim untuk mengawasi jalannya proses politik pemilihan kepala daerah. "Coba ada 8 kandidat,berarti ada 8 grup saksi kan ada 8 proses pencarian, padahal kalau saksi-saksinya netral dibiayai negara kayak hakim begitu menurut saya itu lebih baik, ini gagasan ya setelah bersusah payah," ujar Kang Emil.

Saat ditanyakan dari pihak mana saja yang sudah menyumbang untuk kegiatan kampanye duet Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan yang terbesar baru dari alumni UC Berkeley, jumlahnya mencapai Rp 1,2 miliar.

Dia menyebut ada perusahaan-perusahaan yang sudah menyumbang, namun angkanya rata-rata sekitar di bawah Rp 10 juta.

"Belum, belum ada yang sampai seperti itu(perusahaan menyumbang Rp 750 juta), rata-rata dibawah itu rata-rata dibawah 10 jutaan lah kalau mau dipukul rata ya dan saya kira tidak ada masalah,"ujarnya.

Apakah ada tokoh-tokoh politik yang sudah memberikan sumbangannya?

"Enggak ada, ini kealumnian saja, saya juga baru kenal baru sebagian besar," kata Kang Emil.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved