Perubahan Mindset Guru Titik Awal Revolusi Pendidikan

Pendidikan yang ideal adalah mengajarkan para siswa untuk hidup, mengasah talenta, kompetensi, karakter, tanggung jawab, dan kepedulian

Perubahan Mindset Guru Titik Awal Revolusi Pendidikan
istimewa
Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), mengatakan perubahan mindset guru bisa menjadi titik awal revolusi pendidikan di Indonesia 

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal mengatakan adanya perubahan mindset guru bisa menjadi titik awal revolusi pendidikan di Indonesia.

Apa yang diajukan oleh perangkat pendidikan saat ini ternyata tidak menjawab tantangan zaman yang memasuki era industri 4.0 atau Cyber Physical System.

"Baik kurikulum maupun materi pengajaran masih berkutat seputar kognitif, padahal dunia sekarang menuntut keterbukaan," kata Rizal saat workshop Pembinaan Kelompok Kerja Kepala Sekolah SD Tingkat Kabupaten Sleman, Senin (23/4/2018).

Dikatakannya pendidikan yang ideal adalah mengajarkan para siswa untuk hidup, mengasah talenta, kompetensi, karakter, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap komunitas sosial di sekitarnya.

“Sekolah itu seharusnya membangun kemandirian berpikir dan kemerdekaan moral. Pendidikan kita cenderung mematikan kreativitas anak. Seharusnya, sekolah justru membangun nalar dan mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitarnya,” ujar pria yang juga menjadi dosen Universitas Gadjah Mada itu.

Rizal turut mengungkapkan, guru bisa menjadi titik awal perubahan dalam pendidikan di Indonesia. Kreativitas guru untuk mengajar anak-anak dan menciptakan kurikulum sesuai kebutuhan para siswa bisa dimulai dari ruang kelas. Salah satu caranya adalah dengan membuat sekolah menjadi menyenangkan sehingga anak-anak bergairah untuk belajar.

“Guru perlu mengubah mindset agar bisa menemukan metode yang tepat untuk mengajar anak-anak. Lingkungan yang menyenangkan perlu dibangun di sekolah dan pengajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.”

Sebagai contoh, perayaan Hari Kartini di sekolah tidak melulu diisi dengan lomba-lomba atau kompetisi karena hal tersebut bisa membesarkan ego anak. Sebaiknya, pengajaran yang disampaikan bisa lebih kontekstual dengan mengajak anak-anak untuk melihat nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini dan merefleksikan apa yang bisa dilakukan di zaman sekarang.

Tentu saja, perubahan ini perlu mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan setempat. Program yang diajukan dinas selama ini cenderung sia-sia dan nihil dampak positif. Menurut riset dari World Bank, dari LPMP, diklat-diklat guru, dan sertifikasi cuma menambah kesejahteraan guru tanpa memberikan pengaruh terhadap mutu pendidikan.

Pelatihan guru tidak semestinya berkutat pada materi, tetapi lebih baik membangun iklim bagi guru untuk berkembang seperti yang dilakukan oleh GSM. Dengan support system yang positif, niscaya kreativitas dan inovasi para guru akan bertumbuh secara cepat karena para guru sudah memiliki hati nurani yang mengarah pada kemajuan.

“Sudah saatnya sekolah tidak membunuh talenta manusia. Sekolah perlu menciptakan lingkungan positif baik fisik atau sosial. Pembelajaran haris lebih otentik dan mampu menjawab persoalan masyarakat. Kemudian, anak-anak akan belajar mengenai tanggung jawab dan empati,” sambungnya.

Nantinya, para guru diharapkan mampu menghadirkan perubahan di sekolah masing-masing. Dampak positif yang terjadi pada anak-anak akan dikumpulkan, lalu ditunjukkan kepada para pengambil kebijakan bahwa sistem pendidikan Indonesia selama ini salah. Pendidikan tidak lagi menjadi tempat mematikan nalar, tetapi lingkungan yang menyenangkan untuk bertumbuh dan berkembang.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved