Breaking News:

Tinggi Gelombang Mencapai 4 Meter, Nelayan di Laut Selatan Dihimbau Tidak Melaut

Semua nelayan di Perairan Pantai Selatan sebaiknya tidak usah melaut hingga seminggu ke depan.

zoom-inlihat foto Tinggi Gelombang Mencapai 4 Meter, Nelayan di Laut Selatan Dihimbau Tidak Melaut
Ilustrasi gelombang tinggi

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Semua nelayan di Perairan Pantai Selatan sebaiknya tidak usah melaut hingga seminggu ke depan.

Potensi gelombang tinggi bisa mencapai 4 meter. Kondisi ini bisa mengancam keselamatan nelayan

 "Saat kejadian di Puger, tinggi gelombang di perairan ini mencapai 4 meter. Sebenarnya setiap hari kami sudah memberitahukan prakiraan cuaca maritim. Masyarakat nelayan sebaiknya perlu tahu," kata Prakirawan BMKG Maritim Perak Arrizal Rahman Fatoni, Kamis (19/7/2018).

BMKG mendapat laporan bahwa ada kapal dengan 21 orang ABK terempas gelombang di sekitar perairan Pelawangan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.

BMKG mencatat saat kejadian gelombang bisa mencapai 4 meter. 

Saat itu, Arah angin dari Timur Laut ke Timur dengan kecepatan 10 - 26 knot. Sementara arah arus menuju Barat Laut dengan kecepatan 5 - 10 cm/detik.

 "Diperoleh catatan bahwa pada saat kejadian, Tinggi gelombang Signifikan atau gelombang di tepi pantai 1.5 - 3 meter. Sementara Tinggi gelombang Maksimum 2-4 meter," kata Arrizal.

Saat kejadian itu, Visibility mencapai 8 KM. Tidan ada hujan saat kejadian. Cuaca waktu itu di lokasi Berawan. Namun karena iklim kemarau mendorong kekuatan angin sehingga gelombang meninggi.

Saat ini, gelombang di sebagian besar wilayah Indonesia cenderung meningkat. Termasuk di pantai Selatan stau samudra Hindia Belanda di Periaran Selatan jatim. Yakni membantang dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung hingga Banyuwngi.

 Kenapa gelombang saat Ini cenderung tinggi? Arrizal menyebutkan biasa tengah berlamgsun "siklon tropis Ampil" atau badai tropis di timur Filipina: Selain itu saat ini pusat tekan rendah mencapai 996 milibar.

 Ini terjadi di di wilayah Jatim terutama Pantai Selatan. Karena itu menyebabkan peningkatan kecepatan angin yg bertiup dr Australia menuju Asia melalui Indonesia.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved