Mengenal Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dayak Wehea dalam Menjaga Hutan Lindung Wehea

Masyarakat desa yang merupakan Suku Dayak Wehea melakukan pendekatan adat dalam menjaga Hutan Lindung Wehea.

Mengenal Kearifan Lokal Masyarakat Adat Dayak Wehea dalam Menjaga Hutan Lindung Wehea
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur. TRIBUNNEWS.COM/FRANSISKUS ADHIYUDA 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, KUTAI TIMUR - Lembaga adat Desa Nehas Liah Bing di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur punya cara tersendiri dalam menjaga kawasan hutan.

Masyarakat desa yang merupakan Suku Dayak Wehea melakukan pendekatan adat dalam menjaga Hutan Lindung Wehea.

Hal ini merupakan sejarah dan pertama kalinya di dunia dimana masyarakat adat terlibat langsung dalam aturan tentang perlindungan hutan dan ekosistemnnya.

Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektar ini merupakan hasil perjuangan masyarakat adat Dayak Wehea dimana sebelumnya kawasan hutan merupakan wilayah perusahaan yang bergerak di bidang loging.

Pada 6 November 2004, kawasan area perusahaan itu kemudian dikukuhkan melalui sumpah Adat Wehea manjadi 'Keldung Laas Wehea Long Sekung Metguen' yang pada saat ini lebih dikenal dengan sebutan Hutan Lindung Wehea.

Sejak tahun 2004 pula, tidak ada pembalakan liar di kawasan Hutan Lindung Wehea.

Pengukuhan Hutan Lindung Wehea juga tidak terlepas dari lembaga swadaya masyarakat The Nature Conservancy (TNC), pada tahun 2003 mengadakan penelitian terkait dengan kekayaan Hutan Lindung Wehea.

Dari penelitian TNC tersebut, di Wehea ada 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon bernilai.

Masih ada sekitar 760 ekor lebih orangutan dengan nama latin Pongo Pygmaeus atau dalam bahasa dayak Wehea disebut Lehje.

Halaman
1234
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved