Mahasiswa STTAL Kembangkan Pesawat Pengintai, Landing Otomatis saat Baterai Habis

Saat Diesnatalis Ke-53, Sekolah Tinggi Teknik Angkatan Laut (STTAL) Surabaya seakan mendapat kado manis dari mahasiswanya

Mahasiswa STTAL Kembangkan Pesawat Pengintai, Landing Otomatis saat Baterai Habis
SURYAOnline/nuraini faiq
Serka (nav) Oscar Panji Saptanugraha menunjukkan karyanya di kampus STTAL, Jumat (15/3/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Saat Diesnatalis Ke-53, Sekolah Tinggi Teknik Angkatan Laut (STTAL) Surabaya seakan mendapat kado manis dari mahasiswanya.

Salah satu mahasiswa Teknik Elektro yang aktif sebagai anggota TNI AL, Serka (nav) Oscar Panji Saptanugraha berhasil mengembangkan Drone untuk diproyeksikan sebagai pesat pengintai mini.

Pesawat tanpa awak ini akan memiliki tingkat jelajah yang bisa diandalkan. Selain memiliki akselerasi cepat karena tak perlu landasan untuk terbang, daya tahan terbang bisa mencapa 1 jam di udara.

Drone Pesawat mini ini juga bosa langsung Take off vertikal setelah kerja Drone.

"Saat ini terus kami kembangkan bersama tim. Kami mengimpikan akan menjadi pesawat intai ringan yang mampu membawa beban 50 kg," tekad Oscar yang saat ini menjadi mahasiswa S1 Teknik Elektro STTAL.

Saat ini prototipe Drone pengintai sebagai pesawat mini itu sudah beroperasi. Oscar bersama rekan-rekannya berhasil mendesain dan merakit sendiri Drone sebagai pengintai. Model dan desain juga mereka ciptakan sendiri. 

Saat ditunjukkan di kampusnya, Drone pengintai itu mirip pesawat setengah jadi. Rangka dengan dua sayap dan bagian tengah adalah Komponen utama. Drone, minicontroler, kamera, dan instalasi lain dijadikan satu.

Sistem kerja Drone pengintai ini layaknya Drone. Namun dikembangkan untuk misi pengintaian. Pesawat pengintai mini mampu terbang selama satu jam. Saat ini masih mengandalkan baterai. 

"Namun kelebihannya saat baterai hendak habis, Drone pengintai ini akan menjadi auto pilot sehingga Landing sendiri. Sementara masih kita kendalikan di jarak 250 meter," kata Oscar. 

Anggota TNI AL yang sebelumnya bertugas di KRI Halasan ini akan terus mengembangkan temuannya. Secara umum, sistem sudah berjalan. Dia mengaku butuh waktu enam bulan merakit bersama timnya. 

Halaman
12
Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved