Melayat Mbah Bandiyem, Ganjar Izin Membuat Group Montoran Bandiyem

Mbah Bandiyem, satu-satunya penjual buah asongan yang "diizinkan" berjualan di Kantor Gubernuran, mengembuskan napas terakhirnya, Sabtu (15/6) malam.

Melayat Mbah Bandiyem, Ganjar Izin Membuat Group Montoran Bandiyem
Pemprov Jateng
Melayat Mbah Bandiyem, Ganjar Izin Membuat Group Montoran Bandiyem 

Mbah Bandiyem, satu-satunya penjual buah asongan yang "diizinkan" berjualan di Kantor Gubernuran, mengembuskan napas terakhirnya, Sabtu (15/6) malam. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyempatkan datang melayat langsung ke rumah duka di DusunTopeng Desa Kajen Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (16/6) lalu.

Mbah Bandiyem meninggal setelah menanggung sakit sekitar satu bulan karena kecelakaan. Sempat dirawat di ortopedi tradisional, Mbah Bandiyem menjalani perawatan di rumah Pleburan Semarang didampingi anaknya, Sani Sarah (45). Namun pada Sabtu (16/6) malam dia mengembuskan napasnya.

"Permintaan terakhir simbok, pengin dimakamkan di dekat ibu dan saudara-saudaranya di Klaten. Simbok juga memberi alasan, agar anak-anaknya tetap mengingat kampung halaman karena kini anak-anaknya berpencar, tidak hanya di Klaten," kata Sani.

Ada rasa campur aduk yang dialami sanak kerabat Mbah Bandiyem. Pasalnya, tepat lima hari sebelum kepergiannya, suami Mbah Bandiyem telah mendahului menemui Sang Khaliq. Sedih dan takjub dirasakan Sani. Sedih karena kedua orangtuanya telah tiada, takjub karena sedemikan lekatnya rasa tresna mereka.

"Meski sama-sama di Semarang, simbok dan bapak tidak tinggal satu rumah karena pekerjaan. Bapak di Jalan Borobudur Raya no 78 Manyaran, simbok di Pleburan. Tapi setiap seminggu sekali beliau berdua ketemu. Simbok nyuwun dimakamkan dekat ibu dan saudara, meski bapak dimakamkan di Semarang," katanya.

Mbah Bandiyem berjualan di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah sejak 1955, bahkan ketika pedagang lain dilarang berjualan di Kantor Gubernur Jateng, Mbah Bandiyem justru seakan mempunyai akses ke segala ruangan. Menyimak kepemimpinan Jawa Tengah dari gubernur satu berlanjut ke gubernur lain, Mbah Bandiyem pada masa hidupnya pernah mengaku gubernur yang paling dia idolakan adalah Ganjar Pranowo.

"Mbah bandiyem niku tiyang sae. Buat anak dan saudara yang ditinggal seng rukun. Ojo rebutan warisan. Karo tonggo teparo seng rukun. Ben uripe ayem. Kabeh niku keleh Mbah bandiyem "love" (Mbah Bandiyem itu sangat baik orangnya. Buat anak dan saudara yang ditinggal yang rukun, jangan berebut warisan, rukun juga dengan tetangga agar tentram hidupnya. Semua "love" jika dengan Mbah Bandiyem)," kata Ganjar.

Bisa dikatakan tidak ada pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang tidak kenal sosok Mbah Bandiyem. Bahkan pada halal bihalal lebaran 2018, Mbah Bandiyem jadi tamu istimewa Ganjar Pranowo di kantor gubernuran. Untuk mengenangnya, Ganjar meminta izin melabeli grup motorannya dengan nama Bandiyem

"Nyuwun izin niki konco-konco karena tresna karo Mbah Bandiyem, pengen ndadekke jenenge dadi jeneng group motor, Group Montoran Bandiyem (minta izin, karena sayangnya kawan-kawan dengan Mbah Bandiyem, ingin menjadikan namanya sebagai label klub motor, Group Montoran Bandiyem)," katanya.

Group montoran tersebut, lanjut Ganjar, bakal menebar spirit persaudaraan yang salah satu agendanya adalah Wisata Hati, touring menyambangi para lansia, anak yatim serta warga kurang mampu.

"Touring itu selama ini juga telah dilakukan Dinas Sosial Jawa Tengah. Selain menumbuhkan rasa berperikemanusiaan, harapannya agar para lansia dan anak yatim terurus dan kemiskinan di Jawa Tengah teratasi," katanya. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved