Ridwan Kamil Tinjau Warga Karawang yang Terdampak Tumpahan Minyak, Ini Katanya
"Insya Allah selesai, jadi warga tidak usah khawatir," kata Ridwan Kamil, usai meninjau lokasi terdampak tumpahan minyak di Desa Cemarajaya, Kecamatan
TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta Pertamina menyelesaikan penanganan tumpahan minyak sumur YYA1 area Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) dalam 10 hingga 14 hari ke depan.
"Insya Allah selesai, jadi warga tidak usah khawatir," kata Ridwan Kamil, usai meninjau lokasi terdampak tumpahan minyak di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Rabu (7/8/219).
Ia juga meminta semua pihak tidak saling menyalahkan melainkan harus bergotong royong untuk menanggulangi masalah ini.
"Oleh karena itu, saya minta kepada semua pihak untuk saling menjaga. Jangan terprovokasi agar tetap kondusif. Saya juga titip ke TNI/Polri untuk membantu dan menjaga keadaan,” ujar Ridwan Kamil di hadapan Bupati Karawang dr. Cellica Nurrachadiana, Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf, dan masyarakat di Balai Desa Cemara Jaya.
Baca: Kakak Fairuz A Rafiq Ragukan Salam Sayang Galih Ginanjar ke King Faaz
Baca: Ketika Jokowi Sapa Megawati Sebagai Ibunda Tercinta dan Prabowo Sebagai Sahabat
Baca: BNI Sekuritas, Global Wakaf dan ACT Luncurkan Layanan Wakaf Saham
Saat ini, kata dia, tengah dilakukan pengeboran rescue untuk menyumbat sumur minyak yang tumpah, dengan progres 30 persen. Pertamina telah menggandeng perusahaan Amerika yang berpengalaman menangani insiden tumpahan minyak di Teluk Meksiko. "Mereka saat ini sudah bekerja," ujar dia.
Pertamina sendiri menyanggupi permintaan Emil. "Tadi Pak Gubernur minta selesai 10-14 hari. Tapi prediksi kami, bisa selesai sampai 8 hingga 10 minggu. Insya Allah kami sanggup, mohon doanya," kata Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf.
Untuk menanggulangi pencemaran minyak di perairan Karawang, Pertamina bakal menutup sumur YYA-1. Sebab, dari sumur yang digali tahun 2011 itu, muncul gelembung gas disertai tumpahan minyak mentah dan mencemari lautan.
Untuk menghentikan semburan minyak, Pertamina menggandeng Boot and Coots, perusahaan asal Houston, Amerika Serikat.
"Mereka menggali sumur baru. Jaraknya 2 kilometer dari sumur YYA-1. Saat di kedalaman 3.000 meter, sumur baru berbelok menuju sumur lama (YYA-1). Begitu dua sumur bertemu, kami injeksikan lumpur berat hingga semen untuk menghentikan kebocoran. Sampai tidak ada aliran (minyak) lagi," ungkap Nanang.
Nanang menyebut, metode tersebut sebagai satu-satunya yang bakal ditempuh, lantaran tak ada cara lain yang dinilai lebih aman.
"Kalau menutup sumur dari atas, tidak aman. Jika ada percikan kemudian terbakar nyawa manusia bisa hilang. Sebab ini sumur minyak, bukan sumur biasa," kata Nanang.
Nanang mengatakan, saat ini, ahli dari Boot and Coots sudah mulai bekerja.
"Saya tidak tahu bayar berapa. Kalau sudah emergency gini kami tidak pikirkan biaya. Yang jelas, Boot and Coots itu ahli dalam memadamkan kondisi semacam ini, oil spill atau blow up," kata dia.
Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Ridwan Kamil Minta Pertamina Tangani Tumpahan Minyak dalam Waktu 10-14 Hari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ridwan-kamill.jpg)