Cerita Chanee Kalaweit, Bule Perancis yang Terdampak Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan: Sedih

Chanee, yang kini tinggal di Kalimantan Tengah, Kabupaten Barito Utara, juga turut merasakan dampak dari bencana karhutla tersebut.

Cerita Chanee Kalaweit, Bule Perancis yang Terdampak Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan: Sedih
TRIBUN PEKANBARU/
KABUT - Suasana Kota Pekanbaru yang diselimuti kabut asap, Kamis (19/9). Kabut asap semakin pekat menyelimuti Kota Pekanbaru akibat dari kebakaran hutan dan lahan, Dinas Kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas diluar rumah dan harus mengenakan masker jika sedang diluar rumah. Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir 

TRIBUNNEWS.COM Chanee Kalaweit memang bukan orang asli Indonesia. Namun, dedikasinya untuk kelestarian satwa dan lingkungan di Indonesia patut diacungi jempol.

Pria dengan nama asli Aurelien Francis Brule sudah 21 tahun mendedikasikan dirinya untuk mempertahankan kelestarian hutan Indonesia agar bisa menjadi rumah yang nyaman bagi satwa liar yang hidup di dalamnya.

Lewat yayasan Kalaweit yang didirikannya, Chanee, begitu ia biasa disapa, terus aktif melakukan rehabilitasi satwa liar yang menjadi korban deforestasi dan praktik perburuan liar.

Awalnya, pria kelahiran Fayence, Distrik Var, Perancis Selatan, 38 tahun silam ini datang ke Indonesia pada tahun 1998 untuk menyelamatkan spesies Owa.

Tanpa bekal kemampuan berbahasa Indonesia, tahun 1998, Chanee nekat datang ke Kalimantan untuk membangun konservasi satwa liar, khususnya Owa.

"Saya datang ke Indonesia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya belajarnya dari bergaul dengan masyarakat setempat," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (19/9/2019).

 Tangis Ayah di Depan Jenazah Bayi yang Berusia 3 Hari, Bibir Menghitam Terpapar Kabut Asap Riau

Dedikasi untuk satwa liar Indonesia

Hingga hari ini, yayasan yang didirikannya menjadi mitra departemen kehutanan untuk menyelamatkan satwa yang dilindungi.

Perjuangannya untuk menyelamatkan satwa-satwa di Indonesia bukan berarti tanpa duka.

Bagi Chanee, hal terberat yang ia alami saat berjuang menyelamatkan satwa liar di Indonesia adalah melihat wajah Kalimantan yang berubah drastis demi industri perkebunan.

"Yang paling membuat saya sedih, dalam 20 terakhir melihat wajah Kalimantan berubah. Hutan Kalimantan hancur demi industri," ujar dia.

HALAMAN SELANJUTNYA ==============>

Editor: Asytari Fauziah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved