Keran Impor Tekstil Dibuka,188 Pabrik Garmen di Jabar Bangkrut dan 68 Ribu Buruh di-PHK

Mayoritas perusahaan garmen di Jabar yang gulung tikar itu berasal di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung

Keran Impor Tekstil Dibuka,188 Pabrik Garmen di Jabar Bangkrut dan 68 Ribu Buruh di-PHK
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Ratusan buruh garmen PT Selaras Kausa Busana (SKB) menggeruduk kantor Pemerintah Kota Bekasi, Jumat (30/11/2018) pagi. Mereka meminta pemerintah mengadvokasinya karena tiga bulan ini tidak mendapat gaji dari perusahaan tempatnya bekerja 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat mencatat sejak Januari 2018 hingga September 2019, terdapat 188 perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat yang gulung tikar.

Ada sebagian lagi yang merelokasi diri ke Provinsi Jawa Tengah.

"Hambatan kita adalah menghadapi kolapsnya industri manufaktur khususnya tekstil dan garmen yang tengah menghadapi ujian berat," kata Tim Akselerasi Jabar Juara untuk Bidang Ketenakerjaan di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Hemasari Dharmabumi, seusai acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate Bandung, Jumat (4/10/2019).

Hema mengatakan mayoritas perusahaan TPT di Provinsi Jawa Barat yang bangkrut dan relokasi ke wilayah lain karena dibukanya keran impor tekstil dari Cina.

"Dan mayoritas perusahaan garmen di Jabar yang gulung tikar itu berasal di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung. Sekarang sisa 340 pabrik dari awalnya di atas 400 yang ada," kata dia.

Baca: 50 Warga Jabar di Wamena Minta Dipulangkan, Nasib 450 Lainnya Belum Diketahui

Selain karena dibukanya keran impor tekstil dari Cina, kata dia, faktor lain yang menyebabkan pabrik garmen di Jabar bangkrut karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi tekstil.

"Jadi khususnya di Majalaya itu industrinya sudah tua dan bahkan di tahun 2019 ternyata masih ada yang pakai alat tenun yang dipakai oleh pabrik garmen di sana yang bukan mesin," katanya.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar telah melakukan berbagai upaya agar keberadaan pabrik tekstil yang ada saat ini tidak gulung tikar seperti kebijakan pengupahan.

"Kebijakan pengupahan sedang kita upayakan dengan menggalang seluruh stakeholder di bidang garmen, yakni perusahaan ada perkumpulan baru yaitu Perkumpulan Perusahaan Tekstil Jabar yang anggotanya sudah 340 pabrik garmen sudah masuk ke perkumpulan ini," kata dia.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved