Bupati Siak Sampaikan Pentingnya Kolaborasi untuk Tekan Titik Panas Karhutla

Dari segi presentasi hotspot kabupaten di kawasan Provinsi Riau ini merupakan yang terendah, hanya sekitar 6 persen meski memiliki lahan gambut

Bupati Siak Sampaikan Pentingnya Kolaborasi untuk Tekan Titik Panas Karhutla
Tribun/Reynas
Bupati Kabupaten Siak Alferdi (tengah) saat konfrensi pers di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta, Selasa (8/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bupati Siak, Alferdi, menjelaskan rendahnya persentasi titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan hasil kolaborasi banyak pihak.

Dari segi presentasi hotspot kabupaten di kawasan Provinsi Riau ini merupakan yang terendah, hanya sekitar 6 persen meski memiliki lahan gambut terbesar di Pulau Sumatera.

Lebih dari separuh atau 57 persen luas kawasan Kabupaten Siak berupa lahan gambut, yaitu mencapai area seluas 479.485 ha.

“Kami pemerintah kabupaten turut melibatkan masyarakat, mitra pembangunan dan organisasi masyarakat sipil, juga pihak swasta yang dipayungi oleh Peraturan Bupati No. 22/2018 mengenai Inisiatif Siak Hijau,” ucap Alferdi di Hotel Sofyan, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Peraturan Siak Hijau menjadi pedoman bagi pemerintah daerah Siak, masyarakat, juga pihak swasta dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Siak.

Setelah peristiwa karhutla yang masif di tahun 2015, Kabupaten Siak mulai berbenah melakukan tahap tahapan pembuatan Peta jalan Kabupaten Siak Hijau pada tahun 2016.

“Bekerjasama dengan organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Saudagho Siak, menganalisis apa saja penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta meninjau dan mengembangkan peraturan-peraturan daerah untuk mencegah dan mengatasi karhutla,” tuturnya.

Pemkab Siak tidak mengijinkan penebangan kayu alam, dan tidak lagi memberikan pembukaan konsesi lahan perkebunan sawit.

“Saat ini kami sedang mengembangkan lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), intesifikasi komoditas pertanian di lahan gambut seperti Sagu, Kayu Mahang dan juga Aren.” ungkap Bupati Alferdi.

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead menegaskan pengembangan daerah TORA juga sebagai upaya mencegah terjadinya kebakaran terutama di lahan gambut.

"Selain upaya untuk terus menjaga ketinggian muka air, kunci pencegahann kebakaran lahan gambut adalah memastikan lahan-lahan TORA itu tetap produktif. Karena bila memberikan manfaat ekonomi, otomatis masyarakat akan tetap menjaga lahan dan memahami pentingnya pertanian dan perkebuman di lahan gambut tanpa mengeringkan lahan gambut” kata Nazir.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved