Kebakaran Hutan dan Lahan

BPPT: Kualitas Udara di Sumsel Mulai Membaik

Teknologi Modifikasi Cuaca di Sumsel tetap dilaksanakan, memang sempat ada kerusakan pesawat tapi sejak Jumat sudah beroperasi lagi

BPPT: Kualitas Udara di Sumsel Mulai Membaik
/Theo Rizky
Helikopter water bombing berusaha memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Rabu (9/10/2019). Kebakaran lahan masih terjadi dikawasan tersebut sejak beberapa hari terakhir, tim gabungan yang terdiri dari personil Manggala Agni, TNI AD, BPBD Riau dan Satpol PP Kab Kampar juga telah turun dilokasi berjibaku memadamkan api yang diduga berasal dari unsur kesengajaan dari orang yang tidak bertanggung jawab. Masih maraknya kebakaran lahan dikhawatirkan dapat menimbulkan kembali kabut asap pekat seperti yang terjadi sebelumnya. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasca terkena dampak kabut asap akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, kota Palembang sempat mengalami kualitas udara yang memburuk.

Menurunnya kualitas udara di Sumatera Selatan terjadi pada Jumat (11/10/2019) lalu.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan pun hingga saat ini masih terus dioptimalkan.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto membenarkan bahwa memang terjadi penurunan kualitas udara.

Hal itu karena ada pesawat operasional yang mengalami sedikit kerusakan.

Kendati demikian, perbaikan pun langsung dilakukan untuk kembali mengoptimalkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca di kawasan Sumatera Selatan (Sumsel).

"Teknologi Modifikasi Cuaca di Sumsel tetap dilaksanakan, memang sempat ada kerusakan pesawat tapi sejak Jumat sudah beroperasi lagi," ujar Seto, dalam pesan singkatnya kepada Tribunnews, Sabtu (12/10/2019).

Ia menjelaskan bahwa kabut asap pekat sempat muncul pada Jumat pagi, namun pihaknya langsung mengantisipasi agar kualitas udara di wilayah tersebut kembali membaik.

"Asap pekat sempat muncul di pagi hari, tapi siangnya cukup membaik," kata Seto.

Perlu diketahui, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan melalui penyemaian garam atau Natrium Klorida (NaCl) pada potensi awan hujan sebagai objek untuk menghasilkan hujan buatan.

Namun jika potensi awan hujan itu tertutup pekatnya kabut asap, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan penyemaian kapur tohor aktif atau Kalsium Oksida (CaO) yang akan mengurai partikel dan gas pada kabut asap itu.

Dalam pengoperasian Teknologi Modifikasi Cuaca ini, BPPT bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta didukung peminjaman pesawat dari TNI Angkatan Udara (TNI AU) sebagai armada untuk pengoperasian Teknologi Modifikasi Cuaca.

Baca: Sri Mulyani Tak Khawatir Terkait Insiden Penyerangan yang Menimpa Wiranto

Baca: Kabar Terbaru Veronica Mantan Ahok-BTP Diekspos Anak, Lihat Penampilannya, Nathania Kuak Perubahan

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved