Wali Kota Semarang Hendi Tutup Lokalisasi Sunan Kuning, Berjalan Lancar Tanpa Konflik

Setelah 53 tahun beroperasi, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi akhirnya secara resmi menghentikan kegiatan prostitusi di kawasan Rehabilitasi Sosial

Wali Kota Semarang Hendi Tutup Lokalisasi Sunan Kuning, Berjalan Lancar Tanpa Konflik
Pemkot Semarang
Pemerintah Kota Semarang resmi tutup lokalisasi Sunan Kuning. 

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Setelah 53 tahun beroperasi, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi akhirnya secara resmi menghentikan kegiatan prostitusi di kawasan Rehabilitasi Sosial Argorejo, atau yang lebih dikenal dengan lokalisasi Sunan Kuning, Jumat (18/10).

Dikawal secara langsung oleh Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut, proses penutupan lokalisasi SK berjalan lancar dengan dihadiri oleh ratusan penghuni lokalisasi.

Dan untuk memberikan informasi terkait larangan praktik prostitusi di kawasan tersebut, Hendi memasang papan identitas bertuliskan 'Kawasan Argorejo Bebas Prostitusi', yang diletakan di depan pintu gerbang bekas kompleks lokalisasi Sunan Kuning di jalan Sri Kuncoro, Kelurahan Kalibanteng kulon, Semarang.

Pada kesempatan tersebut, Hendi selaku Wali Kota Semarang menegaskan jika penutupan lokalisasi SK ada merupakan program pemerintah pusat, yang kemdudia didukung oleh Pemerintah Kota Semarang dalam hal ini. "Ini sudah menjadi program Pemerintah Pusat, yang menargetkan ditutupnya lokalisasi di Indonesia, paling lambat tahun 2019. Kami di Pemerintah Kota Semarang mendukung program tersebut karena memiliki tujuan yang baik," jelasnya.

Baca: Listrik Gratis di Semarang akan Mulai Diwujudkan Wali Kota Semarang Hendi

Hendi pun menuturkan jika keputusan menutup lokalisasi SK yang diambilnya telah final dan tidak dapat ditawar lahir. "Maka mulai hari ini komplek Argorejo sebagai lokasi prostitusi secara resmi ditutup. Itu sudah menjadi keputusan pemerintah, sifatnya final dan tidak main-main," tegas Wali Kota Semarang itu.

Di sisi lain Hendi juga mengungkapan jika penutupan lokalisasi SK berjalan dengan tanpa adanya konflik. "Dari awal komitmen kami, ingin menutup tanpa ada konflik. Makanya kami lakukan dengan humanis, dan dijalankan dengan beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, mediasi, sampai saling sepakat," cerita Hendi.

Adapun sebagai bentuk komitmen, Hendi menekankan pihaknya telah memberikan tali asih kepada para wanita pekerja seks (WPS). "Mungkin yang kami berikan nilainya jauh dibandingkan dengan perolehan saudari kita yang bekerja di sini selama bertahun-tahun, tetapi Insya Allah berkah," tandasnya.

Baca: Hendi Tawarkan Eks Wonderia Semarang Kepada Investor

Hendi juga mengharapkan, pasca ditutupnya lokalisasi SK, para WPS diharapkan dapat membuka lembar baru dengan pekerjaan halal ataupun membuka usaha. “Tak penting besar atau kecilnya usaha, jika dijalani dengan ikhlas dan kerja keras, Insya Allah akan memperoleh hasil yang baik. Yang terpenting mencari pendapatan yang halal,” pesannya.

"Selanjutnya PR kami adalah melakukan penataan kawasan ini untuk bisa menjadi daya tarik wisata yang lebih positif, misalnya melalui program kampung tematik, dimana telah terbukti mampu merubah berbagai wilayah di Kota Semarang menjadi lebih baik," terang Hendi.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved