Viral Anak SD dan Ibunya Menangis Diduga Karena Di-bully, Ini Faktanya dan Pesan dari Psikolog

Viral anak sd dan orangutnya menangis karena di-bully, ini faktanya dan pesan dari psikolog

Viral Anak SD dan Ibunya Menangis Diduga Karena Di-bully, Ini Faktanya dan Pesan dari Psikolog
Twitter.com/kusalahapa dan Facebook Uun Unaini
(Kanan) video yang viral di media sosial dan (Kiri) Uun Unaini saat mengunjungi keluarga tersebut 

Baca: 7 Fakta Menarik Film Jejak Langkah 2 Ulama yang akan Rilis pada Januari 2020

Menanggapi viralnya kejadian ini, Uun mengatakan hal tersebut terlalu dilebih-lebihkan.

Menurutnya, kondisi keluarga tersebut dalam keadaan baik-baik saja, seperti keluarga pada umumnya.

"Normal-normal saja sih sebetulnya," tegas Uun.

Uun juga berpesan kepada siapapun ketika mendapatkan informasi atau kabar bisa dicek kembali kebenarannya.

Serta jangan langsung percaya dan menyebarkan ke yang lain melalui media sosial.

"Jangan langsung komentar atau gimana, cerdas dalam menerima informasi," tutupnya.

Pesan Psikolog

Viral video seorang ibu yang menangis karena anaknya dibully.
Viral video seorang ibu yang menangis karena anaknya dibully. (Facebook Uun Unain )

Melihat masih adanya kasus bullying di sekolah-sekolah, seorang Psikolog Anak dan Keluarga dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, Adib Setiawan, S. Psi., M. Psi memberikan tanggapan.

Menurutnya hal-hal yang perlu dilakukan orang tua dalam menyikapi anak yang menjadi korban bully di sekolah.

Adib mencontohkan, seorang anak yang seharusnya masih berada di TK sebaiknya tidak dipaksakan masuk SD.

Menurut Adib, seorang anak memang harus bersekolah sesuai dengan usianya.

"Anak kalau masuk sekolah ya harus sesuai dengan usianya," ujar Adib saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (9/12/2019).

Psikolog dari Bintaro, Jakarta Selatan, itu menyampaikan, jika seorang anak bersekolah tidak sesuai dengan usianya, maka memungkinkan anak tersebut mengalami bullying.

Hal itu juga disebabkan oleh faktor perkembangan psikologis yang belum matang.

"Contoh nih anak harusnya masuk SD usia 7 tahun tapi usia 6 tahun sudah masuk SD, nah itu bisa jadi sebab bullying karena belum matang secara perkembangan psikologisnya," jelas Adib.

Adib menyarankan orang tua untuk tidak memaksakan kehendak dalam menyekolahkan anaknya.

"Perlu dipertimbangkan, kalau anak masih cocok di TK ya harusnya di TK," tegasnya.

BacaGelandang Persib Doakan Timnas Indonesia U23 Juarai SEA Games 2019

Menurut Adib, penting bagi orang tua untuk memperhatikan kondisi anaknya.

Adib menambahkan, saat ini, untuk masuk SD memang tidak diharuskan mampu membaca dan menulis.

Namun, seorang anak yang perkembangan psikologisnya sudah matang, untuk taraf anak SD, sudah seharusnya dapat mengikuti instruksi guru.

"Guru nyuruh nulis ya harusnya anaknya mau nulis, bukan diam saja, kalau anaknya diam saja memang secara umum dia belum siap masuk SD," jelas Adib.

Menurut keterangan Adib, seorang anak yang dipaksakan masuk SD dalam kondisi yang belum siap dapat memicu bullying dari temannya.

"Dampak anak belum siap masuk SD tapi dipaksa itu bisa jadi pemicu mendapatkan bullying dari temannya," kata Adib.

"Jadi orang tua memang harus melihat bagaimana perkembangan anak, melihat sampai mana sih kemampuannya, sudah siap masuk SD apa belum?" sambungnya.

Selain itu, Adib menyampaikan, untuk menyikapi anak yang menjadi korban bullying maka seharusnya orang tua berkoordinasi dengan guru.

Baca: Cara Daftar SNMPTN 2020, Buat Akun LTMPT hingga Cetak Kartu Bukti Pendaftaran

"Kalau anaknya mendapat bully dari teman ya sebaiknya berkoordinasi dengan guru, dengan pihak sekolah," tutur Adib.

Menurut Adib, seorang guru akan cukup bijaksana untuk mengatasi persoalan bullying di antara murid-muridnya.

Adib memberi catatan, jangan sampai orangtua main hakim sendiri.

Terlebih, sampai bermusuhan dengan sesama orangtua.

 "Jangan sampai orangtua main hakim sendiri atau malah orangtua sama orangtua," ucapnya.

Dalam menyikapi masalah bullying yang dihadapi seorang anak, orang juga perlu dimediasi oleh pihak sekolah.

(*)

(Tribunnews.com/Endra Kurniwan/Widyadewi Metta Adya Irani)

Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Tiara Shelavie
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved