Pembobolan Kartu Kredit

Warga Jepang Jadi Sasaran Empuk Para Pembobol Kartu Kredit di Palembang

Warga negara Jepang jadi incaran paling empuk oleh para pelaku pembobol kartu kredit atau kasus illegal carding.

ISTIMEWA
Ilustrasi kartu kredit. 

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Warga negara Jepang jadi incaran paling empuk oleh para pelaku pembobol kartu kredit atau kasus illegal carding.

Dari puluhan nomor kartu kredit yang didapat dari situs jual beli facebook, hacker Palembang paling sering berhasil menjebol kartu kredit tersebut, Sabtu (7/3/2020).

Para pelaku carding asal Palembang mengaku dalam situs jual beli nomor kartu kredit tersebut para pelaku bisa mengakses seluruh nomor kartu kredit warga negara asing.

Hanya saja warga asal Negeri Sakura lebih banyak yang berhasil, ketimbang orang luar negeri lainnya.

Alpin, salah seorang pelaku carding Palembang mengaku setiap membeli nomor kartu kredit mereka akan mendapatkan puluhan nomor warga negara asing. Mulai dari Asia, Eropa hingga Amerika.

Alberandi alias Randi (26), pelaku pembobolan mesin atm di 5 provinsi saat diamankan tim resmob Polda Sulsel di Makassar, Sabtu (29/2/2020).
Alberandi alias Randi (26), pelaku pembobolan mesin atm di 5 provinsi saat diamankan tim resmob Polda Sulsel di Makassar, Sabtu (29/2/2020). (Himawan/Kompas.com)

Namun, dari puluhan nomor yang didapat hanya sekitar 50 persen tingkat keberhasilannya. Dan warga negara Jepang menjadi sasaran empuk.

"Tingkat keberhasilan jebol kartu kredit ini 50 persen. Nah kalau dapat mangsa warga negara Jepang hampir selalu berhasil," katanya.

Ia menyebut, keberhasilan menjebol kartu kredit warga negara Jepang itu lantaran algoritma dari penelusuran para hacker terbilang tidak terlalu sulit.

Baca: Perubahan TKW Asal Blitar Setelah 8 Tahun Dinikahi Bule & Tinggal di Australia, Intip Potretnya

Baca: Penanganan Virus Corona, Istana Pastikan Protokol Kesehatan Berjalan Hingga Ke Daerah

Maka itu saat sedang meretas kartu kredit warga Jepang selalu sukses.

"Cukup mudah untuk meretas orang Jepang. Kalau orang Eropa tingkat keamanannya lebih sulit," ujar Alpin.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved