Breaking News:

Dorong Akses Listrik di Wilayah Terpencil, Bertenaga Surya dengam Sistem Solar Home

Besaran daya yang dihasilkan dari teknologi sistem SHS mampu menghidupkan mesin televisi, radio, kipas angin, dan lampu

Geafry Necolsen/Tribun Kaltim
ILUSTRASI -- PLTS merupakan pembangkit listrik yang paling memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yang bermukim di wilayah yang jauh dari jangakauan jaringan listrik PT PLN. 

TRIBUNNEWS.COM, KALTIM  - Memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energi, teknologi sistem Solar Home System (SHS) yang dikembangkan Surya Utama Nuansa telah dinikmati oleh warga yang tinggal di 2.885 rumah.

Apabila satu rumah diasumsikan dihuni oleh 4 orang, maka hampir 12 ribu jiwa di enam provinsi itu telah merasakan manfaat energi bersih untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, bahkan pembangunan berkelanjutan di wilayah pedesaan.

"Dalam program Listrik Rumah Tenaga Surya ini kami menggunakan teknologi sistem SHS off-grid, yaitu sistem panel surya mandiri yang tidak memerlukan bantuan grid lain untuk menyala," kata Roy Wijaya, selaku Direktur SUN, dalam siaran persnya, Kamis (23/7/2020).

Pada pertengahan Juli 2020, Kementrian ESDM meresmikan program tanggung jawab sosial perusahaan di bidang kelistrikan menuju rasio elektrifikasi Indonesia 100%, salah satunya PT Surya Utama Nuansa (SUN), pengembang proyek sistem energi tenaga surya di Indonesia.

Baca: Pelajar Tak Mampu di Kabupaten Cianjur Dapat Bantuan 100 Lentera Teknologi Tenaga Surya

Teknologi sistem SHS yang dirancang oleh SUN ini mudah diaplikasikan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat aliran listrik dari energi bersih untuk meningkatkan taraf hidup perekonomiannya.

Pada skala rumah tangga, teknologi sistem SHS bekerja menggunakan tenaga surya yang disimpan pada sebuah baterai.

Seorang Petugas PLTS Bangklet tengah membersihkan panel surya dengan semprotan air, Kamis (4/4/2019)
Seorang Petugas PLTS Bangklet tengah membersihkan panel surya dengan semprotan air, Kamis (4/4/2019) (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

Besaran daya yang dihasilkan dari teknologi sistem SHS mampu menghidupkan mesin televisi, radio, kipas angin, dan lampu.

"Apresiasi program kelistrikan ini juga disampaikan oleh Arifin Tasrif, selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dalam acara peresmian virtual infrastruktur ketenagalistrikan," katanya.

Baca: Pelaku Perampokan di Kudus Gasak Harta Rp 2,2 M, Awalnya Matikan Listrik agar Korban Keluar Rumah

"Kami memiliki inisiatif yang sejalan dengan salah satu pelanggan SUN dalam program pemerataan akses listrik bagi masyarakat di berbagai pelosok di Indonesia.

Jokson, Kepala Kampung Bohe Silian Kepulauan Maratua, penyediaan LRTS untuk kapal nelayan ini dapat membantu para nelayan menangkap ikan di malam hari.

“Biasanya kami hanya mengandalkan lampu dari aki untuk penerangan di malam hari. Dengan adanya LRTS ini, kami bisa menangkap ikan di malam hari menggunakan listrik gratis. Mesin hidup, lampu terang, nelayan senang,” ujarnya.

Alex, Kepala Komunitas Adat Terpencil (KAT) Birang, mengatakan sejak listrik dibantu dengan teknologi panel surya, masyarakat menjadi lebih mudah melakukan berbagai macam kegiatan.

Terutama untuk anak-anak, mereka dapat belajar dengan lebih mudah dan tenang tanpa harus khawatir gelap-gelapan pada malam hari.

Pemanfaatan potensi pancaran sinar matahari sebagai sumber energi merupakan salah satu solusi nyata penyediaan akses listrik yang dapat diaplikasikan dengan mudah di berbagai lokasi.

"Penggunaan sistem energi tenaga surya juga dapat meningkatkan kemandirian energi di Indonesia, memaksimalkan bauran energi bersih dan terbarukan, serta bentuk tanggung jawab lingkungan yang lebih besar," katanya.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved