Breaking News:

Fetish Kain Jarik

Pelaku Pelecehan Fetish Kain Jarik di-DO, Pihak Unair: Pihak Wali Menyesali Perbuatan Putranya

Sebelum keputusan DO diambil, Rektor Unair Prof Muhammad Nasih, kata dia, sudah mengonfirmasi yang bersangkutan beserta orangtua mahasiswa.

Tangkap layar channel YouTube KompasTV
Update Terbaru Dugaan Kasus Fetish Kain Jarik, Pelaku Resmi Dikeluarkan dari Universitas Airlangga 

TRIBUNNEWS.COM - Pihak Universitas Airlangga ( Unair) Surabaya akhirnya mengambil tindakan untuk mengeluarkan G.

G sendiri merupakan pelaku pelecehan seksual fetish kain jarik yang sempat viral beberapa hari terakhir.

Berdasarkan informasi yang beredar, G juga seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya.

Pihak kampus mengungkapkan, G dinilai telah melanggar etik dan mencoreng nama baik Unair.

"Unair telah mengambil keputusan melakukan drop out (DO) kepada yang bersangkutan sesuai keputusan komite etik kampus," kata Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2020) seperti dikutip dari Kompas.com.

Sebelum mengambil keputusan tersebut, Rektor Unair Prof Muhammad Nasih sudah mengonfirmasi yang bersangkutan.

 Mahasiswa Unair Pelaku Pelecehan Seksual Fetish Kain Jarik di-DO, Dianggap Coreng Nama Baik Kampus

 Viral Karena Kasus Fetish Kain Jarik, Gilang Bungkus Di-drop Out Universitas Airlangga

 Update Kasus Pelecehan Seksual Fetish Kain Jarik, Keluarga Terduga Pelaku Minta Maaf, Sanksi Menanti

Kelainan seksual fetish G bungkus kain jarik yang tengah viral di media sosial.
Kelainan seksual fetish G bungkus kain jarik yang tengah viral di media sosial. (Twitter | @m_fikris)

Selain itu, pihak Unair juga menghubungi orangtua sebagai wali mahasiswa terlebih dahulu.

"Pihak wali mahasiswa menyesali perbuatan putranya dan menerima apapun keputusan pihak kampus," ucap Suko.

Suko menganggap tindakan G telah mencoreng nama baik Unair sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Pertimbangan lainnya, pihak kampus juga memerhatikan pengaduan sejumlah korban yang merasa dilecehkan dan direndahkan martabatnya.

HALAMAN SELANJUTNYA =========>

Editor: Irsan Yamananda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved