Breaking News:

HUT Kemerdekaan RI

Borong Mainan Dagangan Ngatimin sang Pejuang, 'Superman' Bagikan 2 Karung Mainan ke Panti Asuhan

Setelah borong mainan dagangan Ngatimin, Danar 'Superman' bersama rekan sesama alumni FEB UNS 1999 salurkan 2 karung mainan ke panti asuhan di Solo.

Kolase Tribunnews.com
Setelah borong mainan dagangan Ngatimin, Danar 'Superman' bersama rekan sesama alumni FEB UNS 1999 salurkan 2 karung mainan ke panti asuhan di Solo. 

Ngatimin muda pun harus terus memberikan informasi kepada komandannya soal keberadaan tentara Belanda.

Hal itu guna mendukung strategi yang disiapkan sang komandan.

Seiring berjalannya waktu, peran Ngatimin muda semakin berkembang.

Ia mulai ditugaskan untuk memastikan senjata para tentara Indonesia aman disembunyikan di wilayah musuh.

Satu diantaranya yaitu berada di sisi timur lapangan udara Panasan.

Ngatimin terus berusaha mengamankan senjata dan melindungi diri supaya tidak tertangkap.

Apabila tertangkap, Ngatimin muda harus menghadapi nasib kematian.

Ngatimin mengaku dirinya bahkan sempat bertahan hidup dengan memanfatkan tanaman di sekitarnya selama 20 hari karena harus sembunyi dari kejaran tentara Belanda.

Terkadang Ngatimin muda juga harus menahan rasa laparnya.

"Tiap hari begitu saya berjuang tanpa makan, caranya menghitung hari itu batang pohon kecil saya tekuk tapi tidak dampai patah," aku dia.

"Kalaupun makan, makan dedaunan yang ada di sekitar meski rasanya tidak enak," tambahnya.

Perjuangan Ngatimin muda membantu melawan tentara Belanda usai saat tahun 1951.

Ngatimin kemudian memilih masuk sekolah rakyat yang ada di daerah Colomadu.

Sementara itu, Ngatimin mengaku sudah tidak lagi mendapat kabar apapun soal komandannya setelah perlawanan dengan tentara Belanda selesai.

Baca: POPULER: Pejuang Mata-mata Belanda Pura-pura Jadi Anak Tidak Normal | ABG Ditinju Teman hingga Tewas

Nama komandannya pun sampai saat ini ia tidak tahu lantaran saat itu dirinya tak pandai membaca.

"Saya tidak pernah tanya, meski ada tulisan di bajunya, saya belum sekolah, belum bisa baca," tandasnya.

Kini di usia tua yang semestinya dipakai untuk beristirahat, Ngatimin menyambung hidup dengan berjualan mainan.

Dengan laba tak seberapa, ia berusaha bertahan hidup dengan profesi yang kini ditekuninya itu.

(Tribunnews.com/Widyadewi Metta, TribunSolo.com/Adi Surya Samodra)

Penulis: Widyadewi Metta Adya Irani
Editor: Whiesa Daniswara
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved