Refleksi Satu Abad Sosok Bambang Utoyo: Pejuang Kelahiran Tuban yang Dikenang 'Wong Kito'

Satu abad atau 100 tahun sepatutnya untuk mengenang hari kelahiran Bambang Utoyo yakni seorang tokoh pejuang yang cukup dihargai di Sumatera Selatan

Editor: Emil Mahmud
Istimewa
Indra Bambang Utoyo inspektur upacara Apel Kebangsaan Bela Negara FKPPI melapor kepada Presiden Jokowi selaku inspektur upacara di Monas, Sabtu (9/12/2017). Dia merupakan putra, Almarhum Bambang Utoyo yang menghabiskan waktunya berjuang semasa bertugas di Sumatera Selatan, meski lahir di Tuban, Jawa Timur. 

Oleh: Letkol Caj. Drs. Jeni Akmal

MEMASUKI satu abad atau 100 tahun (20 Agustus 1920-20 Agustus 2020) sepatutnya untuk mengenang hari kelahiran Bambang Utoyo yakni seorang tokoh pejuang yang cukup dihargai oleh masyarakat di Sumatera Selatan (Sumsel), Indonesia.  

Sepanjang hidupnya, Jenderal Bambang Utoyo, yang lahir hingga wafat 20 Agustus 1920 hingga 4 Juli 1980 menghabiskan seluruh jiwa dan raganya demi mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengingat hampir seluruh jiwa raganya dihabiskan untuk membela Sumsel dari berbagai rongrongan penjajah dan permasalahan sosial yang terjadi.

Bahkan dalam palagam “perang lima hari lima malam Palembang”, tangan kanannya harus diamputasi, karena ledakan granat tangan.

Meskipun Bambang Utoyo ini lahir di Tuban, Provinsi  Jawa Timur (Jatim), namun bagi Warga Palembang atau “Wong Kito” bahwa dia merupakan sebagai satu tokoh masyarakat Palembang.

Baca: Hari Konstitusi, Syarief Hasan: Momentum Penting untuk Melakukan Evaluasi

Perlu kiranya untuk mengetahui tentang tragedi ledakan granat yang menyebabkan Bambang Utoyo kehilangan satu tangan kanannya.

Pelaksanaan amputasi tangan kanannya oleh dr Ibnu Sutowo dilakukan dengan menggunakan peralatan medis yang serba darurat mengakibatkan Bambang Utoyo musti menahan sakit yang tiada tara.

Bahkan menurut ajudan Bambang Utoyo, Peltu Tobing pada saat diwawancarai di kediamannya Ciputat, terakhir berpangkatnya Letkol (Purn), guna mengurangi rasa sakit saat tangan kananya diamputasi, maka digunakanlah air cuka.

Lantaran tangan kanannya sudah tidak utuh lagi, maka dia memulai belajar menulis menggunakan tangan kiri.

Halaman selanjutnya: 

Sumber: Tribun Padang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved